Ramadhan, kau pergi saat kumasih kehausan. Kau pergi saat ku sedang nyaman berteduh memanjakan kedahagaan. Dan kau pergi saat asyikku bercengkrama dengan kerinduan.
Hari-harimu begitu cepat berganti, membawaku kehari fitri yang sebenarnya belum siap kutemui. Tapi apa daya ketika setumpuk arsip dan rutinitas pengelolaan keduniyawian semakin mempersempit ruang gerakku menikmati mentari keberkahan. Dan hanya sisa malam yang menitipkan kesempatan diantara beban kelelahan dan kemalasan.
Di saat gema takbir berkumandang bersautan dari malam hingga pagi hari. Tak kuasa air mata ini mengalir dihadapan gaung keagungan Sang Pemilik Ramadhan. Aku terjerembab pada kesedihan dan kegelisahan. Bukan hanya aku sedih berpisah denganmu yang begitu penuh berkah, rahmah dan ampunan. Tapi aku gelisah, apakah aku akan seperti saat kau ada di sisi. Bisakah aku tetap seperti di hari-harimu, berdzikir, bertadarus, berpuasa, beriang shalat fardhu dan sunahnya, bersedekah meski tak sebagus para hambamu yang khanif. Aku takut, aku tak bisa seperti itu lagi.
Dan kini, setelah berhari-hari, berminggu-minggu aku semakin terbenam pada kehinaan. Kembali pada seonggok arsip dan rutinitas pengelolaan duniyawi. Hingga rembulan pun mengejek, “lebaranmu libur kembali”.

