Untuk lelaki normal seusiaku memang sudah sepantasnya melepas masa kesendirian. Teladan kita pun (Muhammad saw) menikah pada uisa 25 tahun. Dan aku sudah lewat sedikit angka itu. Tetapi semua orang mungkin memilki alasan kenapa tak kunjung jua menyempurnakan separuh agama. Ada alasannya karena karir, belum mau terikat, belum cukup biaya, belum siap mental, dan sebagainya. Aku pun punya alasan mengenai hal ini. Dan semoga alasanku bukan cuma alasan.
Saat kumencari kontrakan aku sempat melakukan percakapan dengan seorang Ibu pemilik kontrakan tersebut. Dia mengatakan kalo dia ga mau menerima seorang yang masih lajang. Alasannya karena takut membawa pacar dan melakukan tindakan yang memancing reaksi warga. Lalu kukatakan pada Ibu itu bahwa aku tidak pacaran. Dia sempat menunjukkan mimik wajah curiga plus penasaran. Lalu dia pun bertanya kembali.
“Tapi adik muslim kan?” “Ya Bu, saya muslim.” Jawabku “Oh, seperti Fahri ya (AAC)”. Sambil si Ibu itu merubah mimik menjadi amat ramah.Aku tersenyum sendiri, betapa dampak novel dan film AAC ini sungguh luar biasa. Andai tidak ada AAC mungkin aku dicurigai sebagai gay.
Kisah lain ketika aku pulang kampung kemarin. Sejujurnya aku berat hati kalau pulang kampung. Bukan tak rindu sama keluarga dan sanak saudara. Tapi di daerahku, lelaki seusiaku seharusnya sudah menikah terlebih telah memiliki lahan penghidupan yang “layak“.
“Mana Aisyahnya Aa ?”. Tanya adikku. Dan banyak lagi pertanyaan dengan nada yang sama. Yang aku senang adalah bahwa kini jika ada anggapan miring padaku musnah sudah. Terbantah oleh fakta bahwa ternyata dunia pacaran yang selama ini gencar disosialisasikan oleh madia elektronik melalui beragam film, sinetron dan realty show adalah metode yang tak seharusnya dilakukan dengan buta oleh kita.
Gimana, mau nggak dengan anak si Ibu ? Pertanyaan tadi pagi ketika aku hendak membeli pencukur kumis. Dan aku cuma tersenyum.
Kupikir aku belum bisa untuk saat ini.


Waw! sebegitu berpengaruhnyakah Film ayat-ayat cinta
Sebenarnya percakapannya panjang. Cuma disederhanakan tanpa merubah maksud dari percakapan tersebut.
Oleh: desmeli on April 15, 2008
at 10:43 am
Ada sisi negatifnya juga loh. Anda bisa disangka teroris.
Ah bisa aja. Teroris kan penebar teror, kepanikan, kekacauan. Kalo kita seharusnya menjadi penebar cinta dan kedamain.
Beda jauh kan?
Oleh: daeng fattah on April 15, 2008
at 10:49 am
Alhamdulillah, yang memilih tidak berpacaran terbantu dengan film itu..
semoga dipermudah oleh Allah dalam mendapatkan bidadari penyejuk hati
arif
http://arifrahmanlubis.wordpress.com/
Amin. Mohon doanya selalu!
Oleh: arifrahmanlubis on April 15, 2008
at 11:33 am
—Gimana, mau nggak dengan anak si Ibu ? Pertanyaan tadi pagi ketika aku hendak membeli pencukur kumis. Dan aku cuma tersenyum—
Bentar lagi jadi juragan kontrakan neh..
Ups. Nggak ah. Mending jadi juragan mie.
Oleh: trijokobs on April 15, 2008
at 11:43 am
Tenang Choey …
Someday …
Someday …
Pasti dateng kok …
Tunggu saja …
(Trainer ini menikah umur 31 … cuma 3 bulan PDKT … segera diresmikan … takut keterusan …!!!)
Saya sih tenang2 aja Pak. Yang gak tenang justru temen2 saya. Gak sabar pengen makan parasmanan. Lagi pula saya masih muda, kepala 3 masih jauh.
Oleh: nh18 on April 15, 2008
at 12:34 pm
hm…
banyak sisi positif and negatifnya….
sabar aja nunggu aisyahnya
Ya donk
Oleh: shaffiyah on April 15, 2008
at 3:41 pm
Yup.. mari kita sebarkan virus cinta sesungguhnya…
[cinta sesungguhnya emang gimana?]
Kita ambil sisi positifnya aja.. banyak banget walo tentunya juga ada negatifnya.. salut!
Yup. Kita sebarkan saja virusnya! )
Oleh: azaxs on April 15, 2008
at 3:45 pm
masyaallah mantaf nich bos achoey, disegerakan atuh akadnya…. biar ibu kost tidak merongrong, minta anaknya dinikahin
Wah, nggak lah.
Oleh: Resi Bismo on April 15, 2008
at 3:52 pm
“Kupikir aku belum bisa untuk saat ini.”
mo nunggu sampe kapan Mas?
Sampe aku bisa mengatakan ya.
Oleh: chic on April 15, 2008
at 3:53 pm
Kalau sudah waktunya pasti nikah kan?
Ya iya lah
Oleh: itikkecil on April 15, 2008
at 4:00 pm
wih wih…
PLN
(Pasaran Lagi Naik)
PAM (Pasaran Aman Mbak)
Oleh: diah on April 15, 2008
at 4:28 pm
Aslkm……wah kapan lagi neh kang ?
padahal umur kita nggak beda taut lho….
Emang umur Akang berapa?
Saya baru 18 tahun kok.
Oleh: olangbiaca on April 15, 2008
at 4:32 pm
moga cepet ketemu kang, lewat jalan halal alias nggak pacaran
Amin banget.
Oleh: olangbiaca on April 15, 2008
at 4:33 pm
waah……siap2 bisnisnya melebar ke kontrakan nih kang. tapi santai aja lah, nanti juga datang sendiri kok kalau sudah jodohnya.
Bisnis kontrakan. Ngak kepikiran tuh. Ga ada tantangan
Oleh: kaudanaku on April 15, 2008
at 4:43 pm
parah bgt tugh mas ??
untung okta lom nonton AAC !!
Untung, kan Okta masih kecil ya?
Oleh: Okta Sihotang on April 15, 2008
at 4:47 pm
wuih.. sampe segitunya yah dampak film AAC..
Coba aja deh rasain.
Oleh: ridu on April 15, 2008
at 6:54 pm
subhanallah, ya akh.. dampak film AAC terhadap alasan ‘menolak pacaran’ emang positif..

^_^
semoga kita bisa tetap istiqamah di jalan yang kita ambil…
kan Allah janji, lelaki baik2 untuk wanita baik2
Mohon doanya aja dik!
Oleh: presty larasati on April 15, 2008
at 7:06 pm
ge ge ge

mau apa dulu, bu?
akh achoey lagi naik daun, dampak AAC juga
Mau ngajar private kali
Oleh: presty larasati on April 15, 2008
at 7:08 pm
Memang sebaiknya demikian, menikahlah ketika akh sudah merasa siap dalam segala hal……..:P
Yup
Oleh: iephe on April 15, 2008
at 7:52 pm
jadih Aa jugax maok
poliandripoligami jugax donk nantinyah….kek Fachri…Satu aja belum dapet. Ngapain mikir dua atau lebih.
Oleh: Abeeayang™ on April 15, 2008
at 7:59 pm
Sabar Choey….suatu waktu kapal anda akan merapat juga.
Di pelabuhan mana? Merak atau … ?
Oleh: daeng limpo on April 15, 2008
at 8:41 pm
mas..tukeran link yak..
OK!
Oleh: Okta Sihotang on April 15, 2008
at 9:50 pm
AAC…ayat ayat cinta ??
lumayanlah filmnya
Ya sih
Oleh: medan on April 15, 2008
at 9:57 pm
AAC juga berdampak padakuh
Abis nonton AAC saya ditanya si Ayah, ” gimana bun, siap ndak kaya begitu ?”
Wew, saya jawab ajah, ” lha ayah siap ga disunat lagih… ?”
Ih Bunda jahat banget. Tatut
Oleh: Menik on April 15, 2008
at 9:59 pm
kang, diriku ngasih saran:
baca novelnya kang abik yang ketika cinta bertasbih
yang kedua..
ada beberapa kemiripan dengan kang achoey..
Mahal gak novelnya
Oleh: hanggadamai on April 15, 2008
at 10:21 pm
Tunggu apa lagi kang, gejala2 alam sudah ada tuh. Lanjuuuuttt….
Ah takut malah tsunami
Oleh: RhyzQ on April 15, 2008
at 11:10 pm
Kalau memang kehidupan sudah layak memang seyogianya menikah, namun di negeri ini justru bukan hal yang seperti itu yang terjadi, kebanyakan adalah kehidupan belum layak tapi sudah menikah!! Hasilnya?? Lihat sendiri keadaan negeri kita! Ekonominya semerawut dan banyak anak2 terlantar!
Terlepas dari menikah itu adalah hak setiap individu, namun menikah merupakan sebuah tanggung jawab yang sangat besar. Jangan menganggap enteng pernikahan walaupun juga jangan membuatnya sulit. Maunya kita mengikuti teladan kita, menikah pada usia 25 tahun, tapi karena belum siap, anak2 kita malah terlantar. Padahal anak itu kan amanah Allah juga kan? Jadi jikalau terjadi hal seperti itu, tidak baik juga!
Sebuah analisis yang agus Pak.
Jadi ceritanya dukung saya nih
Jadi kesimpulannya kalau memang sudah mampu/mapan ya seyogianya menikah, tetapi kalau belum mampu/mapan ya sebaiknya tidak usah…..
Oleh: Yari NK on April 16, 2008
at 8:22 am
Jangan bersedih dan jangan minder kawan .. jika kamu percaya bahwa rejeki, jodoh dan maut (musibah) telah diatur/ditakdirkan oleh-Nya.
Tapi jika Achoey ga percaya dengan hal tersebut, mungkin Achoey sudah mesti mematok usia perkawinan mu, gajimu harus berapa dan *dibekap*
Banyak sekali .. kita percaya bahwa rejeki, jodoh dan maut telah diatur oleh-Nya .. tapi dalam bertingkah laku dan berpikir, justru sebaliknya. Kita yang menentukan rejeki kita, jodoh kita dan *dibekap lagi*
Umur sekian harus menikah .. kalo kerja, gajinya harus sekian .. hmm, koq rasa-rasanya kita ga percaya sama Allah ya?? katanya itu diatur oleh-Nya. Koq bisa-bisanya kita katakan bahwa umur 25 saya harus kawin. Koq harus umur segitu??
Makanya ketika usia segitu tidak kawin2 .. kita mulai gelisah dan akhirnya asal mengambil langkah. Pokoknya kawin, pokoknya umur segitu kawin. Apakah itu memang yang dikehendaki-Nya .. wong yang menetapkan usia kawin kita koq.
Begitu juga rejeki .. kalo saya kerja di tempat itu, saya minta gaji sekian juta. Titik. Kalo ga segitu, saya ga mau. Walah .. koq soal rejeki itu sama dengan gaji ya?? kita yang mematoknya?? bukan Allah.
Aneh nya dan ajaib nya .. saya belum pernah dengan orang memantok soal mati (musibah) .. umur 25 saya mati, umur sekian saya dapat musibah. Aneh kan .. koq kita maunya yang enak-enak aja yang kita patok.
Artinya .. kita belum benar-benar percaya bahwa rejeki, jodoh dan maut (musibah) itu sudah diatur oleh-Nya. Tapi kita lebih percaya bahwa kita yang mengaturnya hehehe
Catatan : kita memang harus berusaha, kita memang diwajibkan untuk berikhtiar tapi bukan dengan cara mematoknya
Nah ini dia. Makasih Pak atas masukannya. Seneng saya bisa mendapat masukan dari Bapak. Jujur saya akui, sangat bermanfaat.
Oleh: erander on April 16, 2008
at 8:56 am
Ass……
Dampak yang akhi rasakan hampir sama dengan yang ana rasakan
hanya saja klo ana…
skarang sedang masa belajar tuk berubah..
gara2 merasa ditampar tampar ktika membaca novelnya
ohya akh..
klo ada waktu..
coba baca
KETIKA CINTA BERTASBIH
isinya lebih bermakna lagi dari AAC
maksih dah menjadi temen….
Kita sama2 belajar. Insyaallah kaka usahain baca novelnya. Seru banget kali ya.
Oleh: myviolet on April 16, 2008
at 9:01 am
Calonnya dicari dulu mas, mau dibantuin nyari? halah… gak penting nih saya
Ehm…. boleh
Oleh: Rindu on April 16, 2008
at 9:29 am
terus, mau nunggu sampai kapan lagi mas?
Sampai ngebet
Oleh: marsini on April 16, 2008
at 12:01 pm
waaaaah..uda ditawarin tuuuh…kesempatan emas…!!jangan dilewatkan…siapa tau itulah jodohnya yg dicari??
*provokasi*
Nggak ah. Kebal provokasi.
Oleh: theloebizz on April 16, 2008
at 12:54 pm
Jangan terlalu membawa AAC dalam kehidupan ah. Aku jadi sebel tau kalau ada yang bilang “AAC tuh kaya gue banget..”.
AAC y cuma film, jangan dijadikan sebagai bagian dari hidupmu. Toh cinta yang utama kita kepada Allah dan Dialah yang mengatur semuanya.
Banyak yang bilang AAC jelek. Maklum yang bilang baik banget. Kalo aku sih ya proporsional aja. Maklum mahluk biasa.
Oleh: aditya20 on April 16, 2008
at 2:39 pm
Kapan lagi???
*kesempatan menghampiri*
Kapan2 deh
Oleh: lainsiji on April 16, 2008
at 3:41 pm
numpang lewat yach…
kayaknya emang si AAC ini dah merubah paradigma soal pacaran yach..klo soal poligaminya gimana?? hihii
Muslim yang baik gak mengharamkan yang sudah dibolehkan Allah. Toh poligami bukan kewajiban. Ayahku aja gak poligami, padahal ibuku sempet gak mampu melayani bathiniah dengan baik karena sakit bertahun-tahun.
Oleh: ratna on April 16, 2008
at 4:00 pm
Nikah… Ayo… Nikah… Calonnya dah ada khan… minimal target nya lah… tapi cek juga status nya available atau ga… *selamat berjuang*
Makasih. Semangat!
Oleh: JoEy D`JuVe on April 16, 2008
at 5:38 pm
AAC hanya segelintir dari dunia nyata yg memang bisa menjadi rujukan. setidaknya bisa menjadi bahan renungan buat kita semua. klo ada yg belum baca silakan bisa ambil novelnya disini. http://benbego.com/download-novel-ayat2-cinta/ ini hanya untuk sekedar shares siapa tau ada ilmu yg kita lewatkan. sukur2 bila bisa membeli bukunya.
Iya Kang. Salut atas sharingnya
Oleh: Rizki on benbego on April 16, 2008
at 8:12 pm
Saya menikah dulu… punya apa-apa seadanya… “ngontrak di ujung dunia”… (cari yang “terjangkau”) makan pake meja makan dari kardus ditutup triplek… perabot yang lain… hasil kado (kalau dulu belum ada yg kasih duit, seperti sekarang), pemberian orang tua dan mertua….
Alhamdulillah… sekarang udah punya rumah (masih nyicil…) punya motor… anak-anak mendapat pendidikan “layak” (hmmm Zaman sekarang sekolah “Islam Terpadu” kan lumayan…..) Begitulah… kalau soal financial.
Soal mentalitas… kita gak pernah dipersiapkan untuk jadi bapak atau ibu, jadi suami atau istri… (kedil dulu… “dikudang” dgn kata-kata… “cepet gedhe… ben iso dadi dokter….”)
So Bismillah… nikmati semua aluan kehidupan… dgn berpasrah… insya Allah semua akan mudah.
Buka ya…
Yup bunda, moga dah terbuka di tahun 2008 ini.
Oleh: yanti on April 16, 2008
at 9:22 pm
*langsung muter pilem AAC ahhh*
VCD bajakan ya?
Oleh: masmoemet on April 16, 2008
at 10:52 pm
aduuh achoey…jgn lama2 nundanya..nunggu apa lagi thoooo
Nunggu tulang rusuk yang satu itu.
Oleh: ven on April 16, 2008
at 11:37 pm
[...] achoey sang khilaf [...]
Oleh: Dipaksa mbikin PR “All ’bout me” dari kulkas « Abeeayang™ on April 17, 2008
at 12:06 pm
truusss.. kumisnya jadi dicukur gak?? atau kaget sama lamarannya si ibu? hehehe..keren bah..
Sema dicukur dan katanya usiaku jadi lebih muda lima tahun.
Oleh: kucingkeren on April 17, 2008
at 3:57 pm
Di sana sini masalah jodoh, hiks, jadi keingetan lagih, ntar mau nulis ttg jodoh juga ah…
Afwan
Lho bukannya dah dapet?
Oleh: chatoer on April 17, 2008
at 11:35 pm
jodoh gak usah dikejar,,,capek,,,hehe
kalau sudah waktunya nanti Allah akan kirimkan sesuai dengan yang diinginkan…
Percayakan sama ALLAH SWT,,
Iya sih. Makanya biar jodoh yang nyamperin.
Oleh: yellashakti on April 18, 2008
at 10:56 am
Yang penting tetap usaha,,,
terus perbaiki diri dan banyak baca serta tanya-tanya sama yang udah nikah..
supaya nanti gak kaget,,
Kaget dan nyesel kenapa gak dari dulu ya
Oleh: yellashakti on April 18, 2008
at 10:59 am
Emangnya klo orang mo nikah harus bener-bener siap semuanya ya???
Yup
Oleh: Leni on April 21, 2008
at 6:23 pm