Oleh: achoey sang khilaf | November 5, 2007

Problematika Ujian Nasional (UN) 2008

Sebagian besar generasi penerus bangsa yang berstatus sebagai pelajar dan duduk di bangku akhir tiap jenjang pendidikan yang ada merasa keberatan dengan adanya rencana pemerintah yang meningkatkan jumlah pelajaran yang di-UN-kan. Tentu saja mereka gusar karena mereka merasa takut tidak lulus jika saja benar-benar standar kelulusan itu dipakai. Bukan rahasia lagi jika banyak generasi penerus bangsa yang lebih suka hura-hura ketimbang belajar, kemalasan sudah menjadi pakaian bahkan sikap tidak sopan terhadap guru sudah menjadi pertunjukkan yang membahanakan gelak tawa seisi kelas. Lalu siapakah yang salah?

Tak sedikit pula yang acuh tak acuh dengan standar kelulusan ini. Bukan karena mereka merasa sudah cukup mumpuni ilmu pengetahuannya tapi justru karena mereka sudah tak peduli lagi akan masa depannya. Mereka malah ibarat kepiting sawah yang berusaha menggangu teman-teman yang terlihat serius dan berusaha untuk lulus. Maksudnya adalah jika perlu semuanya senasib seperti mereka. Lalu yang salah siapa?

Kepanikan ini tidak hanya menyentuh mereka para pelajar dipenghujung kelulusan juga merambah kepada pihak pengelola sekolah termasuk pimpinan dan para ibu bapak guru. Dibenak mereka terbayangkan apa jadinya jika banyak siswa sekolah mereka yag tidak lulus. Mau disembunyikan di mana wajah sekolah dan pribadi mereka, karena orang tua toh belum cukup arif untuk membagi rata penyebab kegagalan ini. Lantas para pengelola sekolah tersebut berusaha merancang manajemen “Tim Sukses” yang kan beroperasi kelak pada saat genderang perang dibunyikan. Lalu siapakah yang salah?

Sang orang tua sebagai penyandang dana was-was menyikapi keadaan ini. Tak sedikit yang mempersiapkan strategi “jalan pintas” dan “jurus jitu” tak mendidik untuk memuluskan kelulusan anaknya. Lalu yang salah siapa?

Lantas pihak-pihak yang merasa telah dibuat ketakukan ramai-ramai membuat nota kesepahaman menuduh pemerintahlah yang telah salah menetapkan kebijakan. Pemerintah dianggap terlalu memaksakan diri untuk bisa seperti negara-negara lain yang lebih maju tanpa diimbangi dengan tindakan meningkatkan mutu pendidikan itu sendiri, baik dari segi kualitas bangunan fisik penunjang pendidikan ataupun dari standarisasi kualitas guru. Lalu benarkah pemerintah yang salah?

Sebagai bagian dari masyarakat tentunya saya lebih untuk mengajak semua introspeksi, karena bisa jadi kita semualah yang telah melakukan kesalahan. Kesalahan yang berjamaah dan tak kunjung disembuhkan.

Iklan

Responses

  1. Seandainya semua pihak bisa berkinerja dan bersikap dengan baik sesuai dengan peran, tugas & kewajibannya. Pemerintah berusaha memberikan anggaran pendidikan yang layak untuk kemajuan pendidikan baik secara kualitas fisik dan pengajaran. Pihak sekolah berusaha dengan sungguh-sungguh menjalankan proses pencerdasan generasi penerus bangsa dan semua guru benar-benar menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Setiap siswa peduli akan masa depannya dan benar-benar menjadi pelajar yang baik. Serta ORTU tetap mendidik anaknya sehingga menjadi generasi penerus bangsa yang bermoral dan berkepribadian baik. Alangkah indah Indonesia dan UN bukan lagi sebuah momok menakutkan dan tidak lagi hanya ajang pembohongan masal.

    Mari perbaiki kondisi Negeri ini dan yakin generasi muda kita mampu bersaing di kancah internasional. Semangat!

    100% setuju.

  2. hmmm………tentang uan yaps…
    mang susah banget tuk didefinisikan…
    kalo mau dibilang yang salah siapa????
    salah semuanya!!!cos saling bergantungan…
    yah ibarat sebuah pohon,,kalo akarnya dah gak bener/ rusak yah pohonnya mpe ujungnya juga gak kuat atau patah alias gampang tumbangya….
    kalo mau diliat dari akarnya yah dari pemerintah sendiri yang gila dan aneh dalam sistem pendidikannya,,untuk rakyat dah kaya dicoba-coba mau milih baju mana yang bagus…
    emang bener kita dah kaya tikus pecobaan!!!!
    pemerintah seenaknya aja gonta-ganti kurikulum,,,belum kita mengenal kurikulum yang satu dah ganti laen lagi…
    ah cape….
    mending kalo ganti kurikulum diikuti dengan pembelajaran yang baik…
    nah ini mah nggak….
    ga diikuti juga dengan perkembangan dan juga jumlah fasilitas yang ada..
    kegiatan sekolah dalam sehari gak pernah bener-bener full belajar…dah gitu banyak banget guru yang ngajar masih ecek-ecek jauhsama yangada di luar negri bener-bener profesional…
    kaynya yang di salahin yah universitas yang menyalurkan anak didiknya tuk jadi guru…
    gak bener2 ngajarin apa yah cara jadi guru yang profesionnal????
    yah selain itu juga salah anak2nya yang makin ama makin males gara2 ngeliat car gurunya ngajar kaya gitu..
    coba deh Indonesia kasih hasil yan terbaik dan fasilitas yang baik tuk bangsanya…
    gapapa ngerugi dikit,,, lama2 juga bakal berhasil kok…
    mentri pendidikannya bego sie…
    nyantai duang dah kaya bos yang bisanya ngipas-ngipas duit aja…
    kerjanya ga ada cuma bisa nyuruh anak buahny…
    contohin dums ke kualitas dan kuantitas sama negara lain yang maju………

    Wah Andi Putra sepertinya seorang pelajar yang cerdas & kritis. Indonesia butuh banyak pelajar seperti ini. Semangat!

  3. ujian nasional baik namun sayang banyak kecurangan

  4. UN memang bertujuan sangat mulia dalam rangka untuk memberikan kerangka acuan yang jelas dan merata dalam kerangka pendidikan nasional, namun dampak psikologisnya semua pihak terkait menjadi heboh dan merasa ini sesuatu yangluar biasa padahal biasa aja tuh, sebab kalau sudah mengikuti acuan yang sesuai (Silabus dan Kurikulum nasional) dan semua pihak terkait telah melaksanakan tugas masing-masing secara baik dan benar trus apa yang mesti dirisaukan? Nggak Lulus itu memang nggak lulus. Jangan Berusaha Lulus padahal nggak sanggup, Itu kalo mau terstandar. Titik tik. (Itu cuma pendapat aku)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: