Oleh: achoey sang khilaf | November 8, 2007

Meratap Paradigma

“Kuliahlah nak, agar kelak kau mudah mendapat kerja”.

“Jika hanya ingin menjadi pedagang, tak haruslah kau menuntut ilmu hinnga jenjang S1”.

Ungkapan seperti itu sudah terbiasa terdengar di pelosok nusantara. Anggapan bahwa pendidikan yang tinggi bertujuan agar mudah mendapatkan pekerjaan adalah suatu hal yang sudah mewabah bahkan mendarah daging di benak umumnya masyarakat kita terutama generasi tua. Paradigma seperti ini nyaris tak bisa dirubah bahkan seolah dianggap harga mati hasil hitungan matematika dan ramalan jawa. Lalu benarkah paradigma seperti ini?

Bukan maksud hati menyalahkan paradigma seperti ini, karena toh tidak perlu disalahkan pun sudah jelas salah. Paradigma seperti ini awal mulanya dipropagandakan oleh penjajah yang kebetulan bangsa barat terhadap rakyat Indonesia. Dengan tujuan agar rakyat Indonesia tidak berpikir untuk menjadi kaum borjuis melainkan betah pada ke-proletar-an mereka. Mereka dibuat betah sebagai buruh dan dicuci otaknya dari sifat entrepreuneur yang dicontohkan Rosulullah SAW. Dan ternyata paradigma yang dikumandangkan penjajah itu dijadikan bahan rujukan bagi generasi tua dalam mendidik dan menentukan arah langkah anaknya.

Saya adalah contoh dari kekuatan paradigma yang salah itu. Dengan susah payah mengambil disiplin ilmu ekonomi manajemen karena memiliki niat untuk menjadi seorang pedagang (pengusaha) yang sukses. Toh ketika lulus tetep harus bekerja di perusahaan orang lain. Keinginan untuk merintis usaha sendiri pun diembargo, bukan hanya embargo masalah modal financial tapi juga dalam hal spirit dan yang paling penting embargo dalam do’a dan keridhoan orang tua. Hingga akhirnya sebagai anak yang ingin berbakti kepada orang tua toh saya menurut saja. Kini saya bekerja pada perusahan orang lain sudah hampir tiga tahun lamanya. Dan benarlah betapa bangganya orang tua saya. Pilihan mau kuliah atau mau berwirausaha pun kini ditawarkan pada adik saya yang duduk dibangku kelas akhir SMA. Setelah adik saya yang kedua menuruti tuk menjadi seorang Bidan dan kini menjadi Bidan PNS. Saya pikir cengkraman paradigma ini begitu kuatnya dan sebagai seorang kakak saya pun tidak bisa membantu adik-adik saya untuk menguatkan sikap mereka. Dan alhasil jadilah kami keluarga pekerja meski ayah saya bukan pekerja. Kenapa, karena ayah saya tidak kuliah, itulah sebabnya beliau berhak berwirausaha.

Nah, jika kita melihat negara maju seperti Amerika, di sana 1 dari 2 warga negaranya adalah seorang pewirausaha. Bahkan orang-orang terkaya lebih memilih DO dari pendidikan sarjananya. Bukan berarti lebih baik kita tidak Sarjana, tapi alangkah lebih baik jika para Sarjana yang sedikit ini memiliki motivasi yang tinggi untuk menjadi seorang pewirausaha sehingga makin banyaklah lapangan pekerjaan untuk masyarakat dan makin tinggilah tingkat pendapatan warga negara kita.

Oh yach, bukankah sebagian besar pintu rejeki itu adalah dari perdagangan. Ada yang bilang 90%-nya. Maka adalah wajar jika ada ungkapan “Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke Negeri China”. Dan ternyata kebanyakan orang China adalah seorang pebisnis yang tangguh. Di negara mana pun etnis Tionghoa itu berada, mereka adalah para pebisnis yang ulung dan berhasil. Seperti halnya teman saya yang jauh-jauh kuliah ke Australia, toh tetap pulang ke Indonesia untuk berbisnis, menjadi pengusaha restaurant, dan orang tuanya sangat mendukung.

Jadi, maukah kita merubah paradigma ini?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: