Oleh: achoey sang khilaf | Maret 7, 2008

Atas Nama Cinta

Ini adalah cerita masa lalu ketika aku masih merasa diri ini muda. Saat itu aku diminta seorang gadis untuk menemaninya nonton di bioskop. Dan hari libur memang telah aku jatahkan untuknya. Lalu berangkatlah kami dengan harapan bahwa masing-masing dari kami bisa megusir bosan menghilangkan kejenuhan.

Sengaja kami tiba lebih awal, bukan karena takut kehabisan tiket nonton, tapi sekalian cari tempat di mana kami berdua bisa lebih memiliki banyak waktu untuk melepaskan kerinduan. Tapi bukanlah cerita romantis ini yang kan saya bahas. Melainkan cerita indah yang menjadi hikmah buat diri Sang Khilaf ini.

Seruan kebajikan terdengar diantara riuh redam tawa dan cekikikan pasangan muda-mudi yang memenuhi ruang cafe itu. Suara adzan dzuhur yang mengalun dengan nada yang indah terdengar sangatlah kontras tapi aku berusaha untuk tidak menggubrisnya. Aku tetap berusaha fokus pada sosok cantik di depanku. Sampai terdengar kata-kata merdu dari bibirnya yang merah. “Sayang, sebagai muslim selayaknya kau segera menghampiri seruan itu”.

Aku kaget, bagaimana bisa dia yang non muslim menyarankn agar aku segera menegakkan shalat. Sementara aku sendiri berusaha untuk mengabaikannya, pikirku demi menghormatinya. Tapi dia kembali mengulang kalimat itu dan dari sorot matanya terungkap apa yang dia katakan adalah langsung dari dalam lubuk hatinya yang tulus. Karena itu maka aku pun beranjak.

Aku berjalan sambil terus berpikir. Aku muslim tapi aku tak mencerminan diri ini sebagai muslim dalam keseharian. Sementara dia yang non muslim sangat toleran padaku. Aku menangis dalam hati, terharu dan malu pada diri sendiri. Sampai akhirnya aku tiba di batas suci dan aku tertegun, tertunduk bisu.

Di batas suci itu aku mematung, kaki terasa berat untuk melangkah. Bukan karena hati ini yang masih pekat tak ada hidayah. Tapi karena aku merasa teramat hina untuk untuk menginjakkan kaki kotor ini di lantai yang bersih. Apalagi merapatkan diri pada barisan jamaah yang terlihat rapih.

Akhirnya aku tiba di sana dan kuhamburkan diri hina ini pada sajadah, pasrah. Dan air mata berlinang membasahi wajah yang kusam. Lalu asaya teringat lagi sosok cantik yang bijak itu. Tak sia-sia Tuhan hadirkan dirimu dalam hidupku.

“Atas nama cinta kuharap kau bisa nerima. Bahwa aku tidak ingin pacaran lagi. Bukan karena aku tak lagi mencintaimu. Tapi karena kau telah mengingatkan sejatinya cintaku. Dan aku mau mencoba belajar mencintai-Nya dan terus mencintai-Nya hingga aku benar-benar terlelap dalam nikmat cinta-Nya.”
“Atas nama cinta, kuhaturkan banyak terima kasih untukmu duhai cintaku. Dan tetaplah bijak pada dunia. Dan ku yakin kau dapat dipertemukan dengan lelaki yang tepat untukmu, yang pasti bukanlah aku.”
“Atas nama cinta, ijinkanlah aku pergi saat ini. Bukan hendak melupakanmu tapi aku hendak mengingat-Nya.”
“Selamat tinggal gadisku, semoga berbahagia selalu dirimu. Dan di hatiku, kau tetap Sang Bijak”
Iklan

Responses

  1. SubhanAllah..
    kita harus selalu setia mencintaiNya

    Harus “titik”

  2. itu yang terjadi sama ridu dan lingkungan ridu juga.. kebetulan ridu ikut liqo tiap malem minggu, dan murobbinya sangat menganjurkan kita untuk tidak pacaran.. beberapa teman ada yang sengaja memutuskan hubungannya dengan kekasihnya dengan alasan seperti di atas..

    Salut banget deh..

    ternyata kita saudara akhi. Kita jangan pacaran, awas lho kalo ketauan pacaran. Kaka tindak tegas, hehe. Kaka sih sedang mencoba membiasakan diri. Tapi bener lho de, gara2 itu kaka jadi kebelet nikah, hehe.

  3. Alhamdulillah… ternyata mendekatkan diri kepada-Nya membuat kita lebih nyaman dan damai bukan???

    jauh lebih nyaman dan damai. dasyat.

  4. anda sungguh layak mendapatkan gadis bijak itu. jikalau agama adalah keterbatasan itu, Anda akan mampu menembusnya, bahkan bisa lebih indah dari sebelumnya.

    tidak. untuknya ada lelaki lain dan untukku ada wanita lain. insyaallah itu pasti.

  5. Hidayah ternyata dateng dari mana aja ya. Aku yakin dia ngerti saat kamu kasih puisi itu. Puisi yang indah banget.

    pasti ngerti. istriku haruslah muslimah

  6. Sesungguhnya jodoh kita telah ditentukan oleh Allah, sehingga kita tidak perlu khawatir akan kehilangan jodoh kita.. Sesungguhnya cinta yang hakiki hanyalah kepada-Nya

    Betul akhi. Ane ga terlalu khawatir akan masalah itu.

  7. Hidayah bisa datang kapan saja , dimana saja, dengan cara apa saja, karena Allah swt sangat mampu untuk melakukan itu, sekarang permasalahannya sudah pantaskah diri kita menerima hidayah itu karena hidayah merupakah sesuatu yg mahal dan hanya di berikan kepada orang yang pantas menurut-Nya.

    itulah yang membuat saya merasa begitu hina. apakah saya pantas mendapat hidayah sementara saya tetap masih belum mampu berubah.

  8. bersyukurlah masih ada yang mengingatkan

    ( ^__^”)

    dan kuharap lebih banyak lagi yang megingatkan.

  9. itulah indahnya Cinta…banyak misteri yang harus di selami.
    salam,
    langitjiwa

    ya memang itulah indahnya cinta.
    Maka mendekatlah pada-Nya!

  10. subhanallah, perubahan pada diri manusia bisa terjadi karena banyak faktor salah satu nya seorang yang kita cintai…

    ehmm, betul akhi.

  11. wah senangnya ada yang mengingatkan …

    sesuatu yang patut disyukuri.

  12. salut banget buat cewek itu…
    terharu deh bacanya… ^^

    lho malah buat ceweknya. ntar kalo dia baca GeeR lho


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: