Oleh: achoey sang khilaf | Maret 11, 2008

Melabuhkan Cinta dalam Iman

sujud.jpg
Ketika ombak mengarah ke tepian, aku masih tenggelam dalam kelam
Ketika mentari hadir menerangi bumi, aku masih terlelap dalam gelap
Ketika senja mulai tiba, baru aku menatap cahaya

Adalah sebuah perjalanan panjang menuju cahaya Illahi, ketika kita bergelut dalam penat mencari jati diri. Hingga usia remaja beranjak pergi menghantarkan kita pada kedewasaan yang telah lama bersembunyi. Tersingkap perlahan sesuai kehendak hati. Bergerak lambat namun mulai pasti bagi yang mengerti dan mengamini hakikat kealamiahannya.

Dalam awal perjalanan kedewasaan itu, kita telah melewati berjuta warna. Dan warna yang dominan tentunya warna yang telah kita pastikan sebagai warna pilihan. Bagi yang telah mengenal dakwah, tentunya warna dari situlah yang mempengaruhi pakaian kehidupannya. Semakin lama, semakin berserah. Menapaki jalan iman dengan menumbuhkan berjuta kerinduan yang tak terobati. Mencapai tingkat tertinggi “cinta Illahi“. Dan musafir fakir sepertiku tetap berharap pakian yang sama.

Menyempurnakan separuh agama yang telah lama dibina adalah panggilan jiwa yang semakin lama semakin kuatlah perasaan itu. Terdampar pada rasa takut akan terperosok pada rutinitas konvensional, semakin membuat bangkit semangat segera mengakhiri masa kesendirian. Buah kekhawatiran, buah pemikiran, buah keimanan, maka dimulailah.

Bagiku, sosok solehah adalah harga mati yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Bukan karena kesolehanku yang membuat aku terpaku pada kriteria itu, justru karena kedhoifanku, kefakiranku. Bukankah sosok suami akan diwajibkan menjaga diri dan keluarganya dari siksa api neraka. Berarti betapa berat beban seorang laki-laki yang memutuskan tuk menjadi suami, menjadi imam dalam keluarga.

Lelaki yang baik adalah untuk perempuan yang baik pula dan begitu sebaliknya. Mudah memang menebak siapa yang kan bersanding dengan kita. Maka alangkah wajar jika pada masa penantian menunggu bulatnya keputusan, kita berusaha memperbaiki diri. Tapi alangkah hinanya kita jika perbaikan hanya didasarkan pada itu. Tetapkan bahwa ikhtiar perbaikan adalah semata-mata kewajiban setiap hamba untuk menggapai ridho-Nya. Hingga mampulah kita untuk melabuhkan ‘cinta’ dalam iman.

Dan ketika atap tersingkap, menataplah
Sambutlah bidadari yang menghampiri dengan senyuman
Lalu tetaplah tenggelamkan kita pada keabadian penghambaan
Bersamanya
Duhai tulang rusukku yang satu,
Kunanti kau dalam hitungan bulan,
Jika Alloh mengijinkan.
Iklan

Responses

  1. subhanAllah…
    memang pantas sekali seorang pria yg baik untuk wanita yg baik pula..

    Kalo ane kan bukan cowok baik, tapi tetep pengen dapet cewek baik. Gpp kan? Doain ya Bro!

  2. Doain ane ya insya Allah tahun ini.

    Ane juga pengennya tahun ini. Qta saling mendoakan aja ya akhi!

  3. semoga sang hati itu juga berlabuh di orang yg tepat. masalahnya hati itu tak punya mata, cuma feeling, seringkali ‘mendarat’ di tempat salah. Begitulah..

    Owhgt gitu ya. Moga aja deh hati ini ga salah menuntunku. Entah kan dibawa kemana diri ini. Kita lihat saja nanti. 🙂

  4. Seringkali ada pemahaman yang kurang tepat mengenai kata shalih. Orang acap kali memahami bahwa orang shalih adalah orang baik yang tidak pernah salah. Sebenarnya shalih bukan suatu keadaan yang stagnan, sebaliknya kesalihan adalah kondisi yang dinamis. maksud ane, orang shalih itu bukan orang yang tidak pernah berbuat salah atau dosa, melainkan orang yang terus menerus berusaha memperbaiki dirinya. Itulah sebabnya kenapa kewajiban beribadah terhadap Allah tidak pernah terputus, bahkan bagi Nabi sekalipun. Hal ini mengingatkan kepada kita bahwa ibadah pada hakikatnya bukan sekedar rutinitas ritual, melainkan cara kita memperbaiki diri agar kemudian “pantas” mendapatkan cinta dan ridhonya Tuhan.

    Oleh karena itu, menurut ane seseorang yang dipandang “tidak saleh” tetap pantas bersanding dengan orang yang saleh, selama orang tersebut mempunyai semangat untuk terus memperbaiki diri.

    Seburuk apapun masa lalu seseorang (karena berkubang dengan dosa dan maksiyat), ia tetap memiliki kesempatan untuk memperoleh predikat saleh. Tentu selama dirinya -termasuk kita- memanfaatkan sisa usia ini dengan bertaubat dan memperbaiki diri secara terus menerus.

    nabi SAW pernah bersabda: Attaaibu ka man laa dzanba lahu. Keadaan orang yang bertaubat akan seperti halnya manusia yang tidak pernah melakukan dosa (sama sekali).

    Semoga, abang mendapatkan jodoh yang shalihah… :mrgreen:
    *ditendang ke sumur*

    Yup, seringkali mereka yang merasa udah soleh lantas menganggap orang lain itu nista. Padahal sebenarnya dia telah tejebak dalam keangkuhan yang sebenarnya bukan bagian dari sifat soleh itu sendiri. Ada juga akhwat yang karena sudah berjilbab lebar lantas sudah merasa dirinya paling solehah dan dia jadi amat pilih-pilih dan menganggap rendah laki2 yang dianggapnya masih bodoh ilmu agama.
    Ane sependapat dengan antum, yang terbaik itu berusaha memperbaiki diri terus-menerus. Jangan pernah merasa diri sudah baik. Sepertinya ane dan antum hampir sama. Tidak merasa sudah benar tapi sedang berusaha menapaki kebenaran. Berusaha meski kadang khilaf dan salah lagi. Semangat bro!

  5. Hiks hiks kapan sayah menemukan jodoh sayah,
    *gara2 nonton ayat-ayat Centa kemaren

    Euh gara2 Kang Abik nih. Ane juga sama Kang. Wualah :mrgreen:

  6. masyaallah si bro ini, tetap istiqomah bro dan saling mendoakan yach! barakallah semoga segalanya dimudahkan Allah SWT

    Kang Resi, stiap kata dari akang itu inspirasi buat ane. Syukron ya!

  7. luruskan niat, sempurnakan ikhtiar,…
    semoga mendapatkan yang terbaik dari Allah SWT
    mari semakin dekat denganNYA

    Amin!

  8. Bang Achoey, doakan aku juga ya. Awas kalo sampai gak.

    Iya saling doakan. Amin!

  9. subhanallah…
    memang…
    karunia yang terbaik bagi seorang hamba adalah mendapat mar’ah sholehah 🙂
    maka banyak-banyaklah berdoa agar mendapat mutiara terbaik itu…

    karena wanita sholehah lebih baik dari dunia dan seisinya

    semoga saja ana bisa menjadi mar’ah sholehah 😀
    amien Ya Rabb

    Amin Ya Rabb.

  10. “Duhai tulang rusukku yang satu,
    Kunanti kau dalam hitungan bulan,
    Jika Alloh mengijinkan.”

    aduuuh…speechless…tp…
    insyaAllah…kita kan berjumpa wahai kekasih jiwa..
    di suatu tempat dan waktu terbaik yg ditentukanNya.. 🙂

    Amin!

  11. …bila tersingkap oleh angin pagi sambut dia dengan hatimu.bila ia datang pada gelap malam,beri ia cahaya hatimu.bila ia datang kembali pada angin,pada malam hari beri ia kata-kata “maukah kamu menjadi ibu buat anak-anakku.karenaku tahu kamu tercipta dari tulang rusukku.”
    salamku,
    langitjiwa….

    Duhai Langit Jiwa. Sosok teramat puitis. Kan kujadikan kau sahabat dalam bait2 kehidupan.

  12. hi..hi..malu aku malu pada semut merah. ha..ha..misi,ah! masuk ke cmnnt lagi.

    Ah Langit Jiwa bisa aja. Dasar Sang Bijak.

  13. “Lelaki yang baik adalah untuk perempuan yang baik pula dan begitu sebaliknya..”
    Tu kata2 sering banget saya omongin sama anak2 murid saya 🙂
    smoga mereka nantinya mengerti

    Yup teh. Moga aja ane jadi lelaki yang baik. Tapi bukan karena pengen jodoh yang baik saja. Tapi karena ingin dapat ridho-Nya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: