Oleh: achoey sang khilaf | Mei 23, 2008

Renungan Sang Khilaf

 

 

choey.jpg

 

Sosok gontai terseok diterpa angin

Timur dan barat selalu berubah

Sujud semu hiasi pagi, siang dan malam

Lalu berjalan kembali pada arah yang menjemukan

 

Batin merintih haus akan ridho-Nya

Namun nafsu senantiasa menahkodai hampir setiap hembusan nafas

Ketika masih ada detik tersisa untuk merenung

Lonceng hingar pun mengucilkan kekhusuan

 

Sulit bagi diri untuk melepas belenggu kenistaan

Padahal cahaya itu begitu terasa dekatnya

Namun kenapa wajah ini selalu berpaling

Seolah tersilaukan olehnya

 

Kumandang seruan menjemput kemenangan

Terdengar jelas namun kubuat samar

Nurani ini gusar akan ulah yang menjadi klise

Batin meronta untuk bergegas menghampiri arah seruan itu bermula

Tapi kaki terasa berat seolah terikat pada lantai yang pekat

 

Usia ini terus menua namun tubuh makin mengerdil

Seakan sia-sia setiap pelajaran yang tampak di depan mata

Semakin lama semakin hina

Semakin hitam hati dan merah wajah ini


Solat lebih baik daripada tidur

Seruan itu sudah tak akrab lagi di telinga

Mentari pun jengkel akan ulah selimut yang setia menutupi mata

Hingga tak ada beda subuh dengan duha


Sampai kapan ini akan berakhir

Ketika bibir tak pernah basah oleh dzikir

Ketika pikir tak lagi untuk bertafakur

Rumput yang bergoyang pun tak pernah mau menjawabku

Bahkan ketika kuterbenam di dalam padang ilalang

Hanya duri-duri kecil merobek kusam kulitku seolah mengusir

Sudah begitu hinakah aku


Peduli apa aku akan semua ini

Aku akan habiskan waktu yang dengan bengis terus meninggalkanku

Tapi, apakah ini akhir dari sebuah perjalanan

Tidak, masih ada secercah harapan

Dari hati yang senantiasa menunjukkan kehausan


Aku akan coba dan coba lagi

Arahkan wajah pada kiblat yang tak pernah berpindah

Lalu kubenamkan pada sujud yang membungkam

Dan kutolehkan ke kanan dan kiri dengan senyuman


Kan kusediakan waktu untuk kumanjakan hatiku

Biar aku harus terdampar dari jauhnya hingar bingar

Hingga langkah ini semakin lurus meski tidaklah mulus


Jika nanti aku kembali terasing di persimpangan

Dan kembali terlupakan kebingungan

Ku yakin hati ini tetap ada

Dan kelak aku akan kembali lagi pada langkah semula


Tak akan pernah cepat memang aku sampai pada tujuan

Tapi aku akan lebih bersyukur daripada tidak sama sekali


Mungkin air mata ini tak mudah untuk terjatuh

Tapi jika ada saja satu butir yang tertetes

Maka itu adalah buah dari ketulusan nuraniku

 

Bogor, 8 September 2006

Achoey Sang Khilaf

Iklan

Responses

  1. aku pertamaaaaaaaaaaaaaaxxxxxxxxxxxxx 😯

  2. alhamdulillah, ternyata benarrrr 😯

  3. astaghfirullah…
    this is another NARSIS posting ??? 😆

    Tu foto gede amaaaatttt :mrgreen:

  4. maksudnya apa yach? ga ngerti 😀

  5. *baru serius*
    tutuplah lembaran lamamu, bukalah lain kali, bukann untuk menjalaninya lagi, tapi untuk memperingatkanmu…
    sekarang jalani yang terjadi dengan penuh keikhlasan…

    Smangat Choey !!!

    kopdar teh iraha ??? ❓

  6. Kok lesu?? mana semangatnya???!

    *sok tau mode: ON*
    sejarah masa lalu itu untuk diambil hikmah /pelajarannya, supaya kita bisa membuat sejarah masa depan yg lebih baik 🙂 dan semoga kelak, saat kita menoleh kebelakang, kita gak lagi menyesalinya, tapi malah mengenangnya dg senyuman 😀

    (makasi motivasinya kemaren,%tasi colloquium saya sukses *tp gak ada traktir2 😈 * proposal skripsi saya diterima! )
    🙂 semangat!

  7. Ternyata, akang yg satu ini berbakat juga jadi penulis syair… tapi knp syairnya cenderung melow.. Ayo bikin yg ceria dongg….

  8. salam
    Aduh kang serasa menampar diriku ya semua karena we are only human
    *cari alesan*

  9. Itu foto di potret ulang ya Kang? Puisi dengan makna yang sungguh dalam. Menyebut “aku” di dalamnya tapi bisa mengenai siapa saja yang membacanya.

  10. “Rumput yang bergoyang pun tak pernah mau menjawabku, Bahkan ketika kuterbenam di dalam padang ilalang”

    Kata-kata yang mewakili kerisauan kegersangan yang terasa menjadikan hati ini mengeras, dan jarak dengan-Nya kian menganga, ketika khusyuk dalam shalat susah di dapatkan, tilawah tidak lagi menjadikan hati kian lapang………. lalu kepada siapa harus bertanya selain kepada Pemegang dan Penggenggam hati ini…!!!

  11. Aku suka kalimat yang ini:
    Seakan sia-sia setiap pelajaran yang tampak di depan mata

    Bravo

  12. Manusia memang tak pernah luput dari hkilaf dan dosa mas … yang terpenting selalu berusaha untuk memperbaikinya.

  13. Waw… hampir setahun yang lalu….
    Sekarang puisinya sudah berubah dong ya…
    Shubuh dengan dhuha sudah pasti berbeda kan sekarang…

  14. “Sosok gontai terseok diterpa angin”

    saking kurusnya ya?
    qeqeqe, diterpa angin ajah sampe terseok,,,

    btw angin apa ya??

    bunda menik bijak bgt, tutup lembaran lama, buka lain kali, untuk peringatan…

    bbm dah naek lage neh,

  15. Memang usaha dan doa harus sama2 baik. Mungkin kalau hanya salah satu saja yang berjalan, hasilnya akan kurang baik yang mungkin hasilnya hanya dapat menguras air mata saja……

    Namun, ada kalanya si air mata justru membuat hati menjadi lebih teguh lagi untuk percaya kepada maksud baikNya dan juga membuat lebih teguh lagi untuk selalu berbuat lebih giat dan giat lagi…….

    Kekuatan air mata yang diciptakan olehNya memang penuh dengan misteri……..

  16. Syair yang luar biasa kang!
    saya jadi menundukkan kepala…

  17. dalem banget puisinya…

    so nice…

  18. Merenung + Narsis, hehehehe

  19. heuheuehuhe iyah iyah renunang diselipi kenarsisan 😉 nda papa…

    hmmmm…

    semoga yang jadi bahan renungan semua bisa jadi bahan buat jadi lebih baik beneran ya…

    akuseringsekalimerenungtapibelumjugabisamelakukanperubahanyangberarti

  20. ugh… panjang banget

  21. hi …

    thanks for dropin by at my little blog yach bro, and thanks for the prayer too 🙂

    salam kenal….

    rumahnya indah 🙂

  22. renungan yg dalam…

    emang perlu sering2 merenung biar fokus pd kiblat yg tidak pernah berpindah…

  23. gambarnya mengganggu puisinya,,,
    suer deh,,mending foto pemandangan ajah,,,
    diriku jadi ingat masa lalu,,,
    yang seperti itu juga,,,,
    teringat,,,
    lagi,,,
    tak ingin kembali

  24. Mungkin air mata ini tak mudah untuk terjatuh

    Tapi jika ada saja satu butir yang tertetes

    Maka itu adalah buah dari ketulusan nuraniku

    (mak nyess,,,ak bgt)

  25. merindiiiiing

  26. katanya kopdar bos
    gosip aja neh

  27. makin digosok makin sip

  28. bagus banget isinya…
    bener-bener dalam maknanya

    semoga menjadi insan yang lebih baik…
    amiin ya Rabb 🙂

  29. Berhenti menjaring angin di samudra,
    Menatap legamnya mega bergantung di angkasa,
    Mengingat titik hitam menodai hati nan suci,
    Derai hujan terhias segarkan diri,

    Waw, bait-bait anda telah menyentuh kalbu.
    Salam kenal http://economatic.wordpress.com/

  30. lama aku meninggalkanmu kang… rupanya dirimu makin parah narsisnya. :mrgreen:

  31. jadi kapan nich bro??? (mode: nagih ON)

  32. “Setiap manusia pastilah pernah berbuat khilaf, sebaik-baik dari mereka adalah yang mau bertaubat dan kembali ke jalan yang diberkahi.”

    It’s a good poem.

    sukses selalu!!!!

  33. GANBATTENE!!!!

    😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: