Oleh: achoey sang khilaf | Juni 21, 2008

Diorama Dua Hati (cerita fiksi bersambung bagian satu)

Lelaki itu bergegas menuju toko buku yang berada di lantai tiga kawasan perbelanjaan itu. Langkahnya begitu terarah karena telah terbiasa menuju arah yang sama. Tak ada waktu baginya untuk menoleh ke kanan dan ke kiri memanjakan mata dengan beraneka produk yang menggiurkan itu, dan lebih banyak yang lebih menggiurkan daripada produk-produk itu, ya gadis-gadis cantik berpakaian serba terbatas yang siap menyunggingkan senyum ketika kedua pasang mata beradu pandang.

Masuk ke toko buku dengan pikiran terarah pada buku yang telah seminggu dia incar. Dan dia tahu buku itu pastilah ada pada rak kumpulan buku terlaris. Maka amatlah mudah untuk menemukannya. Dan ternyata tak hanya buku itu yang dia temukan. Sosok cantik berjilbab putih itu sedang berdiri sambil memegang buku dengan judul yang sama. Jantungnya nyaris berhenti, bukan karena kecantikan gadis tadi. Tapi dia ingat betul bahwa gadis itulah yang dulu telah membuatnya terlunta-luna dalam kebutaan cinta. Cukup lama memang tapi mudah untuk kembali terbayang kenangan di masa SMA itu. “Maharani, kau kah itu?” Dalam hatinya bergumam.

Lelaki itu segera membalikan tubuh tuk melangkah menjauh. Niat tuk membeli buku segera diurungkan. Bukan karena takut luka hati kembali tersayat, tapi takut keteguhan yang selama ini ditata terkoyak dengan mudahnya. Tapi baru satu langkah saja terayun, tiba-tiba terdengar suara merdu yang tak pernah samar ditelan waktu.

“Assalamualaikum akhi”

Langkah tertahan seolah kaki itu terikat pekat. Dan dengan suara bergetar Ali pun menjawab.

“Waalaikumussalam ukhti Rani”

“Afwan akhi, sudah tujuh tahun kita tak bersua dan ternyata akhi masih saja mengenal Ni.”

“Insyaallah saya gak semudah itu tuk melupakan seorang sahabat.” Dengan nada gugup yang tetap belum terkendalikan.

“Akhi, afwan ya. Ni tahu sebenarnya Ni tak layak tuk menahan langkah Aa yang kan pergi dengan tergesa. Ni hanya mau memberikan kartu nama ini. Sebagai sahabat, tidak salah kan jikalau kita bertukar alamat.” Maharani menyodorkan kartu nama itu sambil wajah tertunduk menyungging senyum.

“Afwan, Aa gak bawa kartu nama. Kartu nama ini Aa terima, syukron ya.” Secepat kilat kartu nama itu telah berpindah tangan.

“Akhi, selamat mencari buku yang kau cari. Assalamualaikum.” Tanpa memberikan kesempatan Ali tuk mencoba menatap wajahnya, Rani dah pergi dengan mudahnya.

“Waalaikum Salam Warahmatullahi Wabarakatuh.” Dan beberapa menit Ali terpaku berdiri sambil mencoba mengingat kembali peristiwa yang baru saja terjadi. Sampai dia tersadar dan terucap istighfar dari bibirnya. Lalu dia masukkan kartu nama itu ke saku kemejanya. Dan dia kembali meneruskan rencana semula, mencari buku yang sudah tidak tahan ingin segera dia baca. Tapi ternyata tak kunjung ditemukan jua. Lalu dia pun menghampiri penjaga toko yang sedari tadi sibuk merapihkan tumpukan jendela ilmu.

“Maaf Mas, kalau buku yang berjudul Gerbang Cinta di depan Mata sudah habis terjual. Buku yang dibeli gadis tadi adalah buku yang terakhir. Mungkin sekitar satu minggu lagi persediaan baru kan datang.”

“Oh, makaih ya mas.” Dengan sedikit kecewa dia segera angkat kaki menuju kedai mie yang dikelolanya. Tapi dia segera mengobati hatinya dengan bergumam, “tenang saja, buku itu kan segera digenggaman.”

(insyaallah bersambung)

—————————————————————————-

Sahabat, bagaimana cerita fiksi di atas, layak untuk dicaci? Bagaimana kelanjutan kisahnya, apakah yang kan Ali lakukan? Lalu bagaimana dengan Rani? Jikalau sahabat bisa menebak kelanjutannya, silakan kirim komentarnya! 🙂
————-
Salam hangat,
Sang Khilaf
Iklan

Responses

  1. Fiksi pa nyata ne kang?
    Btw cerpennya bagus kang
    Lanjutannya mana?

  2. Seneng aku ngebacanya. Teruskan, dik…

  3. Bagus! Cepet sambungannya! Bagian duanya nanti panjangin dikit, kurang puas mbacanya kalau terlalu pendek.

  4. saangat indah tulisannya. Hebat! lam kenal ya?

  5. Lanjuuttt….

  6. ditunggu lanjutannya 🙂

  7. fiksi apapun yang ditulis, tetap menjadikan nuansa kehidupan menjadi warna-warni kayak pelangi, mas achoey. jalinan ceritanya runtut, alurnya juga bagus, diksinya juga menarik, hanya kalimatnya mungkin yang perlu dibikin pendek2 supaya lebih bernas dan padat. oke, mas achoey, kunantikan lanjutan kisahnya 😆

  8. salam kenal…:D

  9. Hmm.. liat alur critanya kayak pengalaman pribadi yah?? 😆

  10. Salam
    Swear kang bagus banget, bahasanya mengalir dan enak banget, cantik lah 🙂

  11. ini si kisah nyata si empunya blog
    ada 4 kata “itu” pada paragraf 1
    ada 5 kata “itu” pada paragraf 2
    lelaki itu dapat diganti Ali,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: