Oleh: achoey sang khilaf | Juni 24, 2008

Diorama Dua Hati (cerita fiksi bersambung bagian empat)

Setelah seharian awan mendung dan akhirnya hujan pun turun. Tidak deras memang, tapi cukup membumbui kesepian Ali yang sedang berbaring seorang diri. Tempat tidurnya memang cukup lumayan nyaman untuk seorang yang masih hidup sendirian. Tapi tetap saja tidak mampu melelapkan Ali yang berusaha tuk menutup penggalan hari.

TV sengaja dia matikan. Merasa bosan akan tontonan yang bukan lagi tuntunan. Kalau pun ada yang membuatnya tertarik hanyalah berita, tapi kali ini tidak lagi. Berita yang terkesan tidak berimbang dan mengungkap kurang akurat sebuah peristiwa membuatya risih tuk menontonnya. Dan rintik hujan itu dia coba hayati sebagai sebuah irama merdu yang membuat hati menari kian kemari. Dan teringatlah kembali pada percakapannya dengan Asep tadi siang.

“Akhi Asep, ane sangat menghargai masukan antum. Tapi apakah antum tahu alasan kenapa ane belum saja menikah. Padahal tak jarang akhwat yang datang dan mengungkapkan perasaannya. Dan bukan salah mereka jikalau ada yang berpikir macam-macam terhadap ane. Semisal menyangka ane bukanlah lelaki yang normal.”

“Jikalau antum menganggap ane sahabat, sebenarnya antum bisa menceritakan alasan itu pada ane. Ya mungkin saja ane bisa bantu.” Jawab Asep mencoba mencari celah agar Ali akhirnya mau mengungkapkan alasan itu. Sebuah alasan yang mampu menjawab kepenasarannya dan mungkin kepenasaran banyak lagi sahabatnya.

“Akhi, bukan berarti ane tidak menganggap antum sahabat. Tapi ane pikir ini bukanlah sesuatu yang perlu ane ceritakan pada siapa pun. Tapi jikalau antum memang mau menjadi pendengar yang baik. Maka ane kan menceritakannya sekarang.”

“Ya akhi, insyaallah ane akan menjaga amanah jikalau ini adalah sesuatu yang harus ane rahasiakan.” Sambil Asep mengacungkan tangan dan merangkai jarinya menyerupai isyarat damai. Ali pun tersenyum melihat ulah Asep yang mulai mendekatkan posisi duduknya.

“Akhi, ane sadar diri bahwa selama ini seringkali mengecewakan dan membebani kedua orang tua. Maka selepas lulus kuliah ane berusaha berikhtiar tuk mampu menjemput rejeki dengan baik dan benar. Ane ingin segera mampu berkontribusi pada keluarga, berbakti pada kedua orang tua. Dimana ayah telah lama bermandi peluh untuk membiayai kebutuhan hidup ane. Dan ibu seringkali berlinang air mata dalam doa-doanya selepas shalat, dengan harapan agar ane sebagai seorang anak lelaki pertama bisa menjadi kebanggaan keluarga dan teladan buak adik-adik ane. Maka jangan heran jikalau bapak ane meskipun hanya seorang kuli bangunan beliau mampu tuk menghantarkan ane sampai memiliki gelar sarjana. Karena motivasi beliau sangatlah kuat membaja.

Allah memuluskan jalan ane. Alhamdulillah ane bisa sedikit membantu biaya perkuliahan adik perempuan ane yang masuk kuliah saat ane baru saja lulus. Butuh waktu tiga tahun buat adik ane untuk mampu menjadi lulusan akademi kebidanan. Dan alhamdulillah dia menjadi lulusan terbaik sehingga bisa langsung bekerja sesuai latar belakang pendidikannya.

Kelulusan adik ane adalah kebahagiaan buat ane. Bukan hanya karena kini ane punya adik seorang bidan, tetapi juga ini berarti aneh sudah bisa mulai berpikir untuk memberanikan diri tuk segera menikah. Tapi ternyata niat ini tak tertanam lama. Tak lama setelah wisuda adik ane dipinang pacarnya yang sudah menunggu lama. Jujur ane sebenarnya sangat bahagia atas dipinangnya adik ane tersebut, karena ini berarti mereka akan segera melegalkan hubungannya. Bukankah pacaran teramat riskan.

Ane paham bahwa bapak ane pastilah kan mengadakan pesta pernikahan lumayan meriah. Karena adik ane adalah anak wanita satu-satunya. Dan ane masih terlalu awam tuk mencoba memberikan masukan. Sebagai anak hanya ingin berusaha membuat bapak tenang, maka ane pun mencoba meyakinkan bapak bahwa ane akan membantu pembiayaan pesta pernikahan itu semampu ane. Bahkan ane menyatakan paling tidak akan membantu separuh dari total biaya itu. Maka rekening tabungan tuk persiapan biaya pernikahan ane pun beralih fungsi. Padahal hampir saja ane mau mengkhitbah seorang akhwat rekan sepekerjaan saat itu.

Tabungan ane habis sudah, malah terpaksa ane melakukan pinjaman pada perusahaan. Akhwat yang sudah meraba sinyal dari ane pun terpaksa mengeluarkan jurus ikhlas. Bukan hanya karena ane pengecut tuk mengkhitbahnya dikarenakan tongpes, melainkan karena kepercayaan keluarga ane tentang gak bolehnya ada pernikahan dalam keluarga yang lebih dari satu kali dalam setahun. Bukan ane mengamini kepercayaan ini, tetapi secara logika pun orang tua pastilah merasa khawatir dan keberatan jikalau harus mengeluarkan dana lagi. Bukan biaya akad nikahnya yang mahal, tetapi tradisi resepsinya itulah.

Akhi, tahukah antum. Tiga bulan setelah pernikahan adik ane, ane mendapat surat dari akhwat yang waktu itu hampir ane khitbah. Seperti ini kurang lebih isi suratnya;

Kepada Yth,
Akhi Muhammad Ali 
di Tempat
.
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
.
Puji syukur pada Allah yang telah melimpahkan begitu banyak nikmat pada kita. Dan perkenalan antara Na dan Aa, bagi Na adalah nikmat sangat pantas disyukuri. Karena Aa telah memberikan harapan di saat Na berada dalam ambang kegelisahan. Meski harapan itu ternyata terhapus sudah, tetapi setidaknya harapan itulah yang telah menumbuhkan sebuah harapan baru, harapan yang sama dari ikhwan yang berbeda.
.
Setiap dari kita memang tidak layak menyatakan bahwa kita harus memiliki separuh nafas dari siapa yang kita impikan. Karena Allah-ah Maha Pemilik nafas hamba-hambanya. Dan karena itu Na selalu berusaha untuk tidak terjebak cinta buta. Cinta yang hanya kan membawa Na pada jurang penghambaan yang melenakan. Terlebih mama, satu-satunya orang tua Na yang tersisa. Di usianya yang senja, beliau punya harapan agar Na segara mendapatkan tautan hati. Mama ingin menyaksikan anaknya bersanding dengan seorang lelaki yang layak jadi imam. Dan lelaki itu kemarin malam telah mama temukan.
.
Aa, pekan depan Na kan melangsungkan pernikahan. Semoga tak ada hati yang terluka, hati Aa, juga hati Na. Karena sekali lagi kita hanyalah seorang anak, yang ingin membahagiakan sosok-sosok yang teramat tulus mencintai dan merawat kita sejak bayi.
.
Sekian surat dari Na, semoga Aa mengikhlaskannya, sebagaimana Na mencoba mengikhlaskan meski berat rasanya. Na yakin, Aa jauh lebih mampu dari Na. Afwan atas semua kesalahan yang telah Na lakukan. Jazakallah atas semua kebaikan yang telah Aa berikan.
.
Wassalam,
.
Lina Hayatun Nisa
.

Begitulah isi surat dari akhwat tersebut. Eh afwan akhi, kok ane jadi ngelantur ke sana.” Lalu Ali mencoba meminum es teh manis yang airnya meluber karena esnya mencair. Lalu Ali pun mencoba melanjutkan kisahnya, karena terlihat Asep masih setia menjadi pendengarnya.

“Setahun setelah pernikahan adik ane itu ane telah memiliki kembali tabungan yang cukup lumayan, setidaknya cukuplah untuk membeli mas kawin yang sepantasnya. Dan idul fitri tahun ini ane sudah membulatkan tekad untuk menambah personil pada kehamonisan tim keluarga besar kami. Tapi lagi-lagi niat ini sulit untuk direalisasikan. Adik ane meminta agar dia juga bisa merasakan bagaimana indahnya proses perkuliahan. Dan orang tua ane sudah menitipkan adik ane itu pada ane. Meski orang tua bilang bahwa mereka memiliki cukup biaya, tetapi sebagai seorang anak pertama ane haruslah bijak. Uang yang ane milikki tak boleh ane otak-atik dulu. Setidaknya sampai adik ane masuk kuliah. Karena ane takut ternyata bapak kewalahan, dan jikalau uang itu masih tersimpan, maka ane pun bisa membantu meringankan beban orang yang sangat ane hormati ini.” Cerita Ali terpotong, karena ponselnya berdering. Sebuah SMS masuk dan Ali membacanya. Tak lama kemudian Ali pamit pada Asep dengan sebuah alasan.

Iklan

Responses

  1. hehehe…………..
    meski belum baca..
    yang penting jadi yang PERTAMA
    hahahaha
    🙂

  2. peringkat tiga besar harus diselamtkan neh……..
    🙂

  3. satu lagi gak apapa ya kang….

  4. Gile… ntu cerbung mangkin oke aja..
    Kapan sambungannye di post yah?

  5. Hmmm sini gak ujan hehe… lanjut….
    hihi.. gak normal?…kacian deh loo
    Hmmm anak berbakti….
    Lina Hayatun Nisa (wanita ke2 ya?)
    Haduuhhhh kasian juga sih…. tapi salut deh tas keperduliannya terhadap keluarga…..
    Hmmmm lom ada titik terang nih buat ali..hehe… hiksss2.. 😀
    Kelanjutan… ditungguuuu…..:D
    Oya bang Ali eh bang Achoey maksudnya,punya no hp or email Nasrul hamid? (teman bang achoey di sorowako)

  6. Ok-Ok … tapi kog warna-warni sih tulisannya, kasian kami yang tua-tua membacanya. Maaf Mas, biasanya tulisan warna-warni (warna tulisan) untuk anak-anak he he.

    Ini bakalan jadi cerpen ya. Selamat.

  7. Kang Ali sangat berbudi ane jadi terharu bacanya.
    Menjadi teladan, menjadi imam, menjadi sandaran hidup sungguh berat.

    Salam aja Buat Kang Ali kudu sabar….
    Tuhan tahu yang terbaik buat umatNya 🙂

  8. *nunggu bagian ke lima*

  9. subhanallah, gak nyangka ternyata sampean pintar juga ya buat karya fiksinya!

    Insyaallah, impian tuk menjadi penulis kayak kang Abik akan tercapai mas.
    saling mendo’akan ya…

    salam.

  10. ooo, dah mo nikah ma lina tapi ga jadi ya?
    mungkin emang udah jalan si ali untuk ga menikah dengan wanita selain rani… 😀
    ya udah, mantapkan hati, jemput si rani… 😀
    sebenarnya untuk menikah, ga perlu dengan perayaan yg meriah juga ga papa kan, ali? 😀

  11. baca bagian ke empat…ak jadi tambah seneng sama uang…hahahah..8)

    kakakq tetep biayain ak kuliah tapi juga tetep melangsungkan nikah…nunggu2 soal kesiapan materi…ga kan pernah ada habisnya, mas Ali…

    jadilah walimah super sederhana itu dilangsungkan, insyAllah tak mengurangi makna..

    soal mahar, kan muslimah yg baik yg mudah maharnya…

    kan soal nikah g berhenti di hari walimah indah…
    tapi tahun-tahun ke depannya, mengarungi masa- masaberikutnya..
    dan emang bagaimana qta mengabdi pada Allah dalam mahligai pernikahan ditentukan dari bagaimana qta melangsungkan walimah..

    apakah layak? apakah pantas…

    lalu di mana letak hadist bahwa cincin besi pun boleh dijadikan mahar??

    ali…kasian kau…pemuda sholeh dalam fiksi, yg terjerat arus matrelialisme

    mengapa untuk menikah saja menjadi sesulit itu?

    bukankah lebih penting bgmn hari2 setelah walimah indah itu berjalan, bukan bgmn walimah itu terselenggara???

    qkira, hal yg mendasar adalah…Ali belum cukup dewasa…jauh dari bijaksana…karena Ali belum mampu membedakan antara yg prinsip dan tidak…kalau toh paham, Ali tidak punya keberanian tuh…
    cowo model githu, ya maaf – maaf aja lho ya 😉

  12. presty masih ada di sini, akh…
    :mrgreen:

  13. Oh .. masalah pernikahan ya?

    Hidup memang pilihan. Dan kita juga diberikan kesempatan untuk menjemput takdir. Rejeki, jodoh dan musibah (maut) telah ditentukan oleh-Nya.

    Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.” Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui. (Az Zumar : 39 ayat 49)

  14. cuma gatau kenapa, belakangan lagi g semangat buat nyamfah ato mosting..
    😦

  15. wah tulisannya keren, bagus ceritanya.
    Diterbitkan dong 🙂

  16. buat Ali
    pliss deh Li,
    niat untuk berbakti pd orangtua itu sangat mulia, dg membiayai kuliah adik hingga lulus itu sudah sangat membantu, untuk yg kedua kali untuk adik..? hmm..
    gmn ya? semua harus seimbang dan adil (utk orgtua, keluarga, utk diri sendiri) begitu jg dg niat utk menikah, apa Ali mau nanti ditinggal nikah lg oleh kekasih gara2 semua ‘alasan2’ utk penundaan itu..? yang ternyata semuanya bermuara pd materi (baca: biaya pernikahan) 😦
    kemon Akhi Ali, semoga lebih bijak 🙂

    ditunggu part 5 nya ya, kang? 😉

  17. Seiring dngan perjalanan waktu Ali pun menyadari bahwa menikah itu bukan pada pernikahan yg mewah, makanan melimpah ataupun mahar “yang tidak murah” .Smga dpt wanita shalehah yang paling berkah itu ya yg mharny mudah.:-). Sbnrny sih pmahaman nie jg msti kuat dari si calon mempelai wanita:-) hehehe….

  18. Wah, cerita bagian tiganya sudah lupa nih.

  19. wah udah bagian 4 aja..
    dah diterbitin dlm bentuk novel blm sih pak?

  20. ketika suatu rencana yg kita susun tidak terlaksana, mungkin ada maksud baik yang allah berikan di dalamnya..krn boleh jadi sesuatu yang kita sukai tp allah tidak meridhoi tetapi..sesuatu yang allah sukai boleh jd kita tdk menyukai..tp itu menjadi kebaikan utk kita…siapa tau..ketika km menikah..yg ada rongrongan..or cobaan drpd bayang2 indah..jd selslu..berbaik sangka..n tetap mengharap ridhoNya..krn itu yg utama

  21. panjang ya?
    sampe ngosngosan saya baca satu dari 4..
    mau sampe berapa tuh?
    saya donlot aja ya, biar baca dirumah..
    jadi ga konsen soalnya banyak kerjaan..
    komennya menyusul
    😆
    maaffff… 😀

  22. Jika jalan kebahagiaan orang tua yang dipilih

  23. Jika Keridhoan Allah yang dipilih

  24. Segala harapan Insya Allah akan hadir dengan membawa bahagia berlipat-lipat… didunia maupun di akhirat… Amin Ya Rabbil Alamin

  25. wah siap2 ni jadi penulis terkenal.. minta tanda tangannya dari sekarang dwoooong
    😛

  26. wah….gak tauk perkembangannyah ternyatah kang achoey udah jago mbikin cerbung…..
    *salut*

  27. ayo…..
    bapak – bapak
    ibu – ibu
    yang punya anak
    ataupun ibu bapak guru yang punya murid…………..
    daftarin anak n muridnya tuk ikut
    KOMPETISI MATEMATIKA NASIONAL 2008
    DI JOGJA
    HADIAH UTAMA SEPULUH JUTA (10 JUTA)
    PLUS BEASISWA KULIAH…
    sayang kalau dilewatkan..
    info lengkapnya
    mampir ke blog ku ya????
    hehehehe
    sekalian promosi gituw…
    :p
    🙂

  28. Siapa lagi Lina ini?
    Hmm..scroll down lagi ah..

  29. Trus Rani itu siapa ya?
    Hmm..scroll down lagi ah..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: