Oleh: achoey sang khilaf | Juni 26, 2008

Diorama Dua Hati (cerita fiksi bersambung bagian enam)

“Alhamdulillah akhi, akhirnya antum memutuskan pula untuk segera menikah. Menimbang posisi antum bukanlah posisi yang tepat untuk mempertahankan kelajangan terlalu lama. Karena antum memiliki anugerah berupa karunia fisik yang menarik. Maka bukanlah hal yang tidak masuk akal jika ada beberapa akhwat yang mengharapkan antum menjadi bagian hidupnya.” Sang Ustadz yang merupakan guru ngajinya itu berhenti sejenak lalu mengambil beberapa amplop ukuran HVS. Lima amplop jumlah tepatnya.

“Akhi, amplop-amplop ini berisi biodata akhwat yang menyatakan ingin menjadikanmu imam mereka. Sebagian besar dari mereka adalah murid istri ane dan ada juga yang merupakan murid sahabat istri ane. Jangan tanya dari mana mereka tahu dirimu. Karena sebagai seorang pembicara dalam berbagai seminar, talk show dan training motivasi ini sudah terlalu mudah tuk mengaktualisasikan dirimu. Tapi ane tak ingin melakukan hal yang dengan tiga bulan yang lalu. Ketika lima biodata yang ane rekomendasikan untuk antum pertimbangkan ternyata tak ada satu pun yang antum pilih.” Sang ustadz lalu tersenyum agar Ali tak merasa dihakimi, karena bukan maksud sang ustadz tuk menghakimi seorang pemuda yang baru saja enam bulan rutin ikut pengajiannya.

“Afwan ustadz, tapi bagaimana dengan permintaan Pak Anwar agar ane berkenan menikahi putrinya itu. Lalu bagaimana juga dengan kecendrungan hati ane pada sosok akhwat bernama Maharani Grianingtyas Safitri?” Ali coba bertanya kembali tentang sesuatu yang sebenarnya sudah panjang lebar diutarakan pada saat-saat awal pembicaraan. Dan ini adalah masalahnya yang cukup membuat Ali dilema.

Ustadz tersenyum melihat eksfresi Ali. Lalu dia pun bicara kembali.

“Akhi, keputusan ada di tangan antum. Dan ane tidak berniat menambah beban pikiran antum. Maka karena itu ane hanya akan merekomendasikan satu biodata saja. Dan yang empat akan ane kembalikan pada yang bersangkutan.”

“Afwan ustadz, itu sama saja. Berarti kini ane dihadapkan pada tiga pilihan yang cukup sulit. Sementara ane tak pernah berpikir sama sekali untuk berpoligami.” Ali kelihatan semakin kelimpungan. Dia memang lelaki yang rapuh. Dan Ali sangat menyadari kelemahannya itu. Lalu dia mencoba menatap ustadz yang sepertinya sama sekali tidak menaruh iba. Senyum malah mengambang dari bibirnya, menambah kharismatik wajahnya yang cerah karena senantiasa terbasuh air wudhu itu, teduh.

“Akhi, ane pun tak bermaksud menyuruhmu berpoligami. Tak semudah itu berpoligami, dan kau memang belum tentu mampu menjalaninya. Ane hanya ingin kau melakukan satu pilihan. Pilihan yang kelak kan menilai dirimu, menilai siapa sebenarnya sosok Muhammad Ali itu.”

———-

Masih di atas sajadah setelah melaksanakan shalat istikharoh sebagai upaya memohon pada Allah untuk ditunjukkan pada pilihan terbaik. Dilihatnya amplop biodata yang tak kunjung dibukanya, lalu dirabanya dengan perlahan. Dan Ali pun bergumam. “Ukhti, kenapa kau jatuhkan pilihan itu padaku? Andai saja kau tahu aku yang sebenarnya, mungkin kau tak pernah melakukan hal yang bodoh ini.”

Lalu Ali pun meraba kartu nama yang tergeletak di samping amplop itu dan dia pun kembali bergumam. “Rani, kenapa kau hadir dan berikan kartu nama ini padaku. Tidakkah kau cukup menolak cinta semuku kala SMA dulu. Kenapa kau datang saat aku ingin melabuhkan hatiku pada aliran sungai cinta yang bermuara pada cinta-Nya.”

Kini kau coba bayangkan sosok Pak Anwar. Sosok lelaki yang berwajah teduh itu, yang memohon agar Ali segera menikahi putrinya. Bahkan mengatakan bahwa keputusan itu adalah hasil istikharohnya. Dan Ali pun bergumam. “Bapa, Ibu, andaikan kalian ada disamping anakmu yang lemah ini dan membantuku tuk memilihkan salah satu dari mereka. Tapi ketika kalian kuhubungi lewat telepon pun malah mengatakan saatnya aku memilih dan menunjukkan siapa diriku. Memangnya kalian belum cukup mengenal siapa anakmu ini. Ya Allah, hanya padamulah aku memohon bantuan untuk menetapkan keteguhan hati akan pilihan. Aku tahu, hanya Engkau lah yang Maha Tahu dan Maha Pemberi Petunjuk.”

———-

Sudah lima hari Ali mencoba mencari jawaban. Dan dalam kurun waktu itu Ali pun hampir selesai membaca buku Gerbang Cinta di Depan Mata yang sudah tiga hari di genggamannya. Buku ini teramat mencerahkan. Ali pun tersenyum karena kini Ali mendapatkan jawabannya. Setelah merasa bahwa keputusannya ini sudahlah tepat, maka dia pun menelepon guru ngajinya.

“Assalamualaikum Ustadz.”

“Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.”

Dan prolog pun sudah saatnya Ali ganti dengan inti dari tujuannya menelepon itu.

“Ustadz, jadi setelah beberapa hari ini ane mencoba untuk menentukan pilihan, kini ane sampaikan pada Ustadz dengan penuh keteguhan dan ketetapan hati. Bahwa amplop yang berisi biodata dari ustadz sengaja tidak ane buka dan ane tak berpikir tuk memilih sang pemilik biodata tersebut untuk dijadikan belahan jiwa. Begitu pun dengan Rani, ane tak akan memilihnya. Ane khawatir kecenderungan hati ini diakibatkan oleh cinta semu masa lalu yang berlandaskan kecantian fisik semata. Dan dengan itu maka ane putuskan tuk datang besok malam ke rumah Pak Anwar dan menyatakan diri bahwa ane siap menjadi suami puterinya. Itu pun jikalau puterinya bersedia menikah dengan lelaki sehina ane. Bagaimana menurut ustadz?” Ali mengakhiri untaian kalimat tersebut dengan sebuah pertanyaan.

“Subhanallah, kini antum telah menemukan jawabannya. Insyaallah pilihan antum berkah. Ane doakan semoga lancar urusannya.”

————

Ali pun cukup puas dengan jawaban guru ngajinya itu. Dan dia kini semakin mantap, kalau besok malam dia kan pergi ke rumah Pak Anwar tuk melamar anak gadisnya itu. Tentunya rencana ini Ali beritahukan pada Pak Anwar dan mendengar ini Pak Anwar pun sangat gembira. Dan Pak Anwar bersiap untuk menyambut kedatangan calon menantunya itu.

(perlu bersambungkah?)

Iklan

Responses

  1. perlu bersambung…

  2. dan sambungannya adalah…
    si rani adalah anak pak anwar…
    happy ending deh… 😀

  3. si ali menikah dengan mba rani…

    novel pertama tamat…

    berlanjut ke novel kedua…
    🙂

  4. Perlu bersambung. Subhnlah, Bener2 dah bkin tambh penasaran. Jujur, penyajian di part ini yang paling saya suka slain part I. halus, dialog yng imbang ,& fokus.
    :-)kyakna jd nerbitin n0vel nih ?

  5. Ihhh ya iayalahhhh… Moga aja anak pak Anwar itu ‘sang pujaan hati, Rani :D….. Tapiiii … gimana kalo yg ada di amplop itu justru Rani tersayang itu ya??? duhhh bikin pnasaran aja dehhh….

  6. Ali yang mau mlamar ko’ brasa ampe kesini ya getarannya….(gempa kali) 😀

  7. skdar masukan, untk part III &IV ,prckpn ALi &Asep jgn dibuat panjang2 dialognya. Kesannya “tua”, kalopun harus, jgn kbnyakn kata penghubung atau sambung. saran saya: pendek2 tp pnuh makna khas anak muda aja, diseling aj antara dialog pjg dgn pdk biar gak m0noton. klopun msti mgunakn klmt pnjang sbgai eksresi kebijakan jiwa, khusus u/ bahasa dialog gunakan jurus: sebaris kata seribu makna.
    tht’s all 4m me. mga brmanfaat

  8. wexx.. :p ini mah baru end bab I kali yaaahh.. ayo lanjut lanjut… 😀

  9. Kisah nyata yah? udah siap melamar … 🙂 ah senang mendengarnya.

  10. dikumpulin udah jadi berapa halaman?
    dah bisa jadi novel?

  11. sambung terus……..ntar di bukukan ajch

  12. jangan dijadiin novel, bikin telenovela aja.. 🙂

  13. lanjut laah.. hehe.. masa’ lanjut doong.. 🙂

    *pembaca setia is still waiting..* 😉

  14. alahamdulillah…..
    mudah 2an ali terhindar dari godaan syetan…
    hatinya bisa bening
    sehingga melihat dengan neon pilif ilahii….
    kalao ali ga mau sama anaknya pa anwar..
    ga tau dah mau anaknya siapa..
    mungkin sama anaknya nyi roro kilul…kali..
    bagusnya sih ali mau… orang cakep ini……

  15. Lho, ya perlu. Wong diikuti kok ditanya perlu bersambung. Hehe.

  16. wah pinter buat cerita ya..
    btw ini cerita pengalaman pribadi ato cuma fiktif mas..??

  17. maaf om, gak tau mo komentar apa? yang pasti wempi blon ada kesempatan baca-baca artikel sepanjang ini en bersambung lagi… :mrgreen:

  18. bersambung aja bang,aku suka artikel2 anda,tukeran link yuk,thks

  19. bersambungg…. anyway, ini kyknya pengalaman nyata yaaaa.. semoga happy end lah.. 🙂

  20. bersambung ajahhhhh.. lanjuuuttttt..

  21. gileee… keren banget tulisannya! bersambung deh jadi ikutan nungguin endingnya nihh…

  22. duh, kayak Wempi saya…

  23. wah lama-lama makin seru neh.., aq mo nunggu walimahannya terus perjalanan rumah tangganya. baru comentnya bisa lengkap…, hahahahahahaa

  24. lanjut terus sobat…, awas kalau gak lanjut. karena dah buat orang kian penasaran…, wakakakakakk
    *pakai ngancam segala, kabuuurrrrrrrrrrr>>>>>

  25. mesti di lanjutin kang Achoey……
    makin penasaran, siapa sih anaknya pak Anwar????

    semoga itu Rani…
    *dengan suara mantap*

  26. Ceritanya sampai bagian berapa ya??

  27. Asslm.. terimakasih ya sudah berkunjung n kasih comment.. Cerbernya bagus, romantis, mudah dicerna, tapi bisa jadi bahan renungan.. btw, pengalaman pribadi ? ;p…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: