Oleh: achoey sang khilaf | Juli 14, 2008

Ketika Ada Cinta di Ujung Pena

Dalam hingar bingar kota besar, Sang Ndeso masih melihat beberapa lelaki merapat dalam shaf menuju kemenangan. Wajah-wajahnya yang teduh karena terbiasa terbasuh oleh air yang mensucikan. Mereka larut dalam penghambaan di sela-sela kesibukan.

Tatapannya mengisyaratkan kasih. Buat mereka semua adalah saudara. Berjalan dalam koridor saling menghormati dan menyayangi adalah sebuah pesan perdamaian untuk dunia. Dan senyuman adalah awal sapaan kala kata belumlah terucap dengan lembutnya.

Sang Ndeso nyaris tak percaya atas apa yang dia saksikan. Sungguh tak seperti apa yang banyak sahabatnya katakan. Bahwa kota besar adalah kandang macan. Tak ada cinta dan belas kasihan. Tak ada kasih sayang dan persahabatan. Dan kita haruslah menjadi “Sang Penjahat” untuk menang.

Sang Ndeso semakin penasaran atas apa yang dia saksikan. Lalu dia mencoba mengamati sekitarnya. Dia lihat gedung-gedung menjulang tinggi menancapkan keangkuhan. Dan saat matanya menepi pada lalu lalang tadi. Dia melihat lelaki gagah dan perempuan cantik berjalan cepat dengan buku tebal di genggaman. Buku-buku cinta yang mencerahkan.

Dan kini dia pun mengerti, bahwa mereka mendapati pencerahan lewat buku-buku itu. Mereka menemukan cinta yang ditebarkan berjuta tinta. Cinta dari ujung pena sosok-sosok bersahaja.

Dan dia pun menebar tanya, “apakah di ujung pena kalian ada cinta?”

Iklan

Responses

  1. pertama:
    sayangnya diujung penaku ada tinta neh…heheheee

  2. cinta ku terdapat didalam hati..bukan diujung pena…

  3. kalau diujung pena ada cinta..wah..bisa nyebarin cinta kemana2 dong..*pura2 oon..*

  4. entahlah, pena saya gunakan buat menulis. menulis yang sering tidak penting

  5. Diujung pena saya ada cinta. pastinya…
    jika menulis dari hati semua yang tertuang didalamnya hidup dengan sentuhan pribadi yang berkarya dengan cita.

  6. Bang A, yang pasti sang desa itu bukan sang khilaf kan…hehe
    ujung penaku adalah “mak comblang” cinta yang ada dalam hatiku…. (maksudnya paan sih niya jdi bingun ndiri) 😀

  7. masih blm mudeng 😕

  8. Ujung pena, namun kini bisa sirna juga.
    tapi cinta sejati tak perlu pengorbanan yang penuh arti…

  9. dan endingnya, sang ndesa akhirnya ikut2an pergi ke perpustakaan utk membaca buku2 yang dia pahami. begitu, nggak, mas achoey?

  10. Di tombol kibor ada cinta juga.

  11. Aku menulis dengan pena cinta, tapi bukan menulis surat cinta, sebab cintaku pada semua blogger tak perlu bersurat, cukup tersirat dalam komen mesti tak menyebut cinta, cintaku pada PC makin lengket, dulu tidak begitu cinta, aku suka menulis tentang cinta, kebetulan kini jatuh cinta pada WP, jadi pucuk dicinta ulam tiba, cinta….

  12. punten kang, kami relawan TReNDI, ingin memperkenalkan bloger yang akan menjadi walikota Bandung,

    http://taufikurahman.wordpress.com

    sekarang bisa dilihat juga

    http://taufikurahman.com

    DARI BLOGER UNTUK PERBAIKAN KOTA BANDUNG
    mari bergabung dengan arus besar POLITIK PERBAIKAN dalam PERBAIKAN POLITIK menuju politik mensejahterakan masyarakat.

    http://trendibandung.wordpress.com

  13. klo guasih gak peke pena tanpa tinta aja

  14. yang ini bisa dikirim,,udah bagus gaya penulisannya,,teruskan,,makin banyak nulis makin bagus,,makin dapet gaya khas tulisan 🙂
    selamat berkarya

  15. Kata pena, akulah raja didunia ini. Siapa yang mengambil aku dengan tangannya maka akan aku sampaikan kerjanya. (Syair Persia).

  16. lho disini ndak ada pena adanya pensil sama bolpen… trus piye kang? masih dapet Mie Janda kan!?

  17. ooohhh..

  18. buku-buku cinta yang mencerahkan yang membuat ujung pena dipenuhi cinta

    *belajar buku cinta yang mencerahkan..*

  19. pena memang terkadang bisa membuat sesuatu yang sederhana menjadi sangat istimewa *cinta*, tapi bisa membuat itu menjadi buruk*surat cerai*
    hihi…

  20. bukan hanya diujung pena, semoga kita (khususnya saya) “meletakkan” cinta disetiap ujung jemari-jemari tangan kita….

  21. salam
    kayaknya klo aku di ujung jari diatas keyboard ya 🙂

  22. kalo saya di ujung hape… soalnya ada tombol perintah buat send sms…

  23. diujung penamu ada masa depanmu *halah apaan coba*

  24. sebenarnya ada, tetapi Ndutz terlalu hina untuk dapat menggapainya 😦

  25. 🙂 selalu ada cinta di ujung pena..

  26. sik kak, tak tanya dulu ma pena ku :mrgreen: , waaa..sayang sekali penanya ketinggalan di kos :mrgreen:

  27. Diujung kantong bajuku bekas pena, biasanya yg tintanya mbleber…hehehehe
    becanda saudaraku jangan diambil hati, ambil ampela aja, wkakakakakaka….

    salam…..

  28. Ketika cinta ada dalam sebuah kata……….dan mengejewantah dalam nyata

  29. dan Ketika Ada Cinta di Ujung Pena………lalu bersemi dalam rasa bersaudara….

  30. lahh,kok diujung pena toh?
    cinta ga usah nulis pake pena.
    kan sekarang ada SMS!

    wakakakakakak

    oon mode : on

  31. Sesungguhnya hanya Sang Ndeso yang tahu apa yang ia maksudkan, yang ia pikirkan.

    (bilang aja males nebak!)

    Btw, salam kenal juga! Thanks dah mampir.

  32. saya menulis dengan cinta Kang, tapi saya sudah jarang menulis pake pena..
    jadi gimana kalo diganti “ketika ada cinta di atas keyboard”? :mrgreen:

  33. jadi bertanya2 , siaappa ya dia ????

  34. kalau hati sudah terisi cinta..

    jangankan diujung pena…
    didasar kata,
    disemburat senja,
    diramai kota,
    diraut muka,
    semuanya…..

    CINTA.

  35. ini yg nulis kaya’nya juga lagi ngarep cinta ya ? 😀

    iya dong, kalo nggak cinta masak ya ngeblog, ya to mas ?

  36. Cinta … ah, entahlah 😦

  37. apakah ujung penaku telah benar-benar terbalut oleh cinta?
    entahlah…..

    semoga saja masih tersimpan cinta dalam mengukir kata.

  38. wempi penanya sering hilang, sekarang malah males beli pena lagi en kecanduan minjam penanya orang malah

  39. Karena buku pun bisa mengibaskan resah pada setiap manusia di mana pun tempatnya.

  40. cinta bukan ada diujung pena, tapi pada si pemegang penanya…*kayanya gitu sich*

  41. di ujung pena saya?

  42. bentar ya, akh.. presty cari dulu pena-nya…

  43. eh lupa, akh… presty g punya pena..
    banyakan pensil ma spidol..
    😆

    penghapus juga ada, lo.. penggaris juga lengkap…
    😆
    😆
    😆


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: