Oleh: achoey sang khilaf | Juli 28, 2008

Satu Sisi Perjalanan Seorang Anak (Fiksi)

Anak itu berjalan menyusuri ruas jalan. Tubuhnya yang kumal menandakan betapa bersahabatnya dia dengan debu jalanan ibu kota yang tiada dua. Didekapnya berlembar koran lokal dan nasional. Isinya tak lagi membuatnya peka tuk membaca. Kecuali beberapa kolom saja yang menurutnya layak. Jikalau ditanya kenapa dia enggan membacanya, jawabannya adalah tak semua koran sekarang berpegang pada kebenaran. Lebih bersifat materialistis yakni hanya menjual yang sekiranya layak dijual dan disukai banyak orang. Atau menjual jikalau berita itu adalah pesanan orang yang bersedia “mensubsidi”. Banyak orang heran atas argumen si anak tadi, dan mereka pun mencoba mengkaji dan bertanya pada hati. Benarkah seperti ini?

Anak itu mencoba berteduh saat lampu hijau menyala. Dia perhatikan betapa kini ibu kota berjuta warna. Merah, kuning, hijau, biru, putih, ungu dan warna-warna lain yang mungkin sedikit mengusik pandangan para pengendara. Dia sempat bertanya, kenapa begitu banyak bendera. Memang sebenarnya dia sempat baca di surat kabar kalau tujuan pemilik bendera-bendera itu adalah untuk memakmurkan negeri ini. Mengangkat derajat rakyatnya agar lebih memiliki kehidupan yang layak. Memang dia sempat melihat ada pemilik bendera itu yang sungguh-sungguh. Datang di kala bencana dan berbagi di rumah kumuh. Tapi jika benar para pemilik bendera-bendera itu memiliki tujuan luhur kenapa hanya datang kambuhan. Ah andai saja semua bendera berkiprah seperti pemilik bendera yang satu itu, gumam dia. 

Dia mencoba menerka uisa, sudah berapa lamakah dia hidup di dunia. Dia sedang berpikir apakah dia layak tuk ikut Pemilu 2009 nanti. Dia pikir tidak. Ah mungkin usiaku baru 13 tahun, taksirnya. Ini disimpulkan berdasarkan kelas berapa dia sekarang di sekolah. Dan dia kelas VI SD, ini tandanya usianya sekitar 13 tahun. Padahal jikalau ibunya ada saat ini mungkin dia kan diberitahu kalau usianya sudah 15 tahun. Tapi dia hanyalah sebatang kara. Kemanakah orang tuanya? Yang jelas dia sempat diberitahu oleh seseorang yang merawat dirinya kalau dia adalah anak sepasang pecinta tanpa ikatan perkawinan yang sah. Dan konon kabarnya sang ayah adalah seorang yang cukup “hebat” sementara ibunya adalah gadis muda yang teramat cantik yang kini memutuskan tuk jadi TKW ke Hongkong. Ibu, benarkah ibu bekerja selayaknya di sana? Si anak itu pun menengadah, karena hanya Tuhan saja yang selama ini menguatkannya.

Iklan

Responses

  1. Potret nyata di dunia yang namanya Indinesia.

  2. kritik sosial yang tajam sekali akhi.

    semoga pegiat politik memperhatikan blog antum ini. agar tersengat, dan yg masih punya hati nurani, semangat berjuang.

  3. kenyataan yang miris untuk kita saksikan…

  4. ahh g tw mo komen apa
    it’s so real bro! 😥

  5. coba baca “pilkadal di negeri dongeng” deh, lebih miris lag 😦

  6. kisah yang menyentuh, dalam maknanya 😦

  7. hidup memang kezzzzaamm… hikz….

  8. sisi lain yang ada negeri ini.. sisi lain yang yang jarang sekali terjamah

  9. Malang nian nasibmu nak, Met hari anak nasional aj wlopun sudah lewat.

  10. Brharap suatu saat ini anak2 ind0nesi dilindungi &memiliki hak penuh atas hidupnya, tidak lagi menjalani peran ganda.Kpn ya?dan Akankah?

  11. *typing eror* suatu saat nanti maksudnya.

  12. aku masih bisa mengangkat adik-adik kita kang,

    semoga suatu saat

  13. Miris 😦

  14. wuihhh keren ceritanya!
    mengena dan tepat sasaran!
    hiiihhhihih!

  15. sedih terpukul, tapi kita harus bangkit…..

  16. mendalami karakter dalam cerita itu wajib banget. sama kaya di teater. ini merupakan langkah awal menulis yang disukai orang..tapi masih kurang dalem penghayatannya 🙂
    selamat mencoba lagi

  17. wahhh salut buat kritikan sosialnya mas
    salam kenal

  18. yg sabar yah sayang…..

  19. Kemarin saya melihat seorang gadis cantik yang asyik bercengkrama dengan anak-anak jalanan… saya terharu melihat masih ada yang peduli dengan mereka… semoga ini juga jadi satu sisi perjalanan hidup saya kelak 🙂 amin ya Rabb.

  20. sangat menyentuh,,,,
    semoga bermanfaat 🙂

  21. 🙂 hidup itu indah, nak. kalau saja kita mau mensyukuri di setiap sisi nya. ttp semangat!!

  22. Tulisan penuh kritik, tapi disampaikan santun lewat pemikiran seorang anak malang tak berdosa. Salut.

  23. keren mas… cerita yang sangat up to date. hal yang biasanya kita anggap remeh pun jadi luar biasa. salut..

  24. hmm…
    memang benar, potret kehidupan negeri ini.. 🙂

    sang anak harus tetep semangat 🙂

  25. emang fiksi cuman kenak bgt ke dunia nyata kang..
    emang kang achoey mah my inspiration 😉

  26. duh,…
    ternyata anak-anak semacam itu banyak,
    sebuah fenomena gunung es 😦
    seandainya mau berbagi,…

  27. kisah realita hidup dari seorang anak yang polos.
    salam kenal

  28. saya senang kalimat terakhir “hanya Tuhan yang menguatkannya”
    yahhh hanya Allah yang bisa menguatkan kita

  29. makasih dah ke blog saya 😀

  30. Wah…potret anak jalanan, ya…

    Hm…..

    Gak heran si Anak jalanan itu Cerdas….lha wong bapaknya orang ‘hebat’…

  31. satu “fiksi” yang nyata sepertinya yah kang…

  32. si anak itu suka melet gak, kang? hehe… potret kehidupan yang mengharukan, tapi banyak digemari para permpuan yang menyenangi kebahagiaan dunia… si anaklah yang kemudian menjadi korban. SI ibu? cuma pamer air mata..

  33. wahhhh padat berisi nich postingannya

  34. Wah, saat kecil dia menderita banget ya?

  35. sebuah frase kehidupan yang ada…ini nyata hanya di indonesia [loch..heheh] but its so real…

  36. Yang penting ada niat tuk berbuat dan memperbaikinya.
    Artikel ini masukan buat pemimpin2 masa depan
    Buat si anak tentunya memberi pengharapan masa depan yg lebih cerah
    Kasalahan generasi pendahulu menyengsarakan generasi berikutnya. Jadi tidak kalah penting adalah pembinaan bidang moral 😀

  37. Bagus sekli kata-katanya,
    buat prku
    hhhhaaaaa……..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: