Oleh: achoey sang khilaf | Agustus 8, 2008

Ketika Sahabat Menyapa Shalat

Aku memang sengaja mendatangi kontrakan sahabatku sewaktu di kampus dulu. Sejak gelar kesarjanaan terangkai di akhir namanya, sahabatku yang satu ini tak mau kembali ke pangkuan di mana dia dilahirkan. Dia lebih betah tetap mengadu nasib di kota dimana kampusnya berada. Tak sia-sia memang, buah statusnya sebagai aktivis kampus dan mahasiswa organisatoris sejati, kini dia menjadi anggota KNPI termuda di kota tersebut.

————————–

Aku baru saja usai menegakkan shalat fardhu. Saat kulipat sajadah yang tampak bersih dan rapih itu sahabatku mulai memancing diskusi.

“Aku sih demokratis. Tak pernah memaksa adikku tuk meninggalkan rutinitas itu. Begitu pun pada orang tuaku.”

Aku tahu yang dia maksud adalah rutinitas shalat. Sebenarnya aku tahu siapa dirinya kini, sebelum aku menjumpainya, sahabat-sahabatku yang lain sempat mengingatkanku agar tak meladeni ajakan debatnya itu. Apalagi jika aku sampai terpengaruh. Aku tatap wajah sahabatku yang tampan itu. Aku tersenyum padanya dan coba bertanya.

“Sahabat, kenapa kau tak lagi shalat?”

“Lho kata siapa aku tidak shalat. Aku shalat, cuma aku tak mendefinisikan shalat seperti yang kau maksud. Yakni gerakan seperti itu. Shalatku setiap waktu.” Gaya bicara orang yang matang debat memang cukup bagus intonasinya.

“Maksudmu?” Aku pura-pura tidak paham.

“Sobat, setahuku kau adalah mahasiswa cerdas waktu di kampus dulu. Orang seperti kita mestinya berpikir dan bertindak rasional. Jangan taklid atau mudah percaya dan terpengaruh oleh doktrin yang tidak ilmiah. Shalat adalah ingat, shalat adalah mengingat Allah. Dan selamanya kita hatus melakukannya. Jangan terjebak ritual!”

Aku kembali tersenyum, aku meilhat memang dia sudah sangat berubah. Aku tak tahu apa sebabnya.

“Jadi maksudmu aku telah salah dalam mendefinisikan dan mengejawantahkan shaat?” Aku kembali bertanya.

“Yup, tepat.”

Tiba-tiba terdengar suara salam seorang perempuan. Aku lihat sosok gadis manis segera menyembunyikan wajahnya dari tatapanku. Lalu sahabatku itu menuju pintu dan berbincang di luar.

“Sobat, kenapa malah di luar. Sekalian kenalkan padaku. Aku yakin itu pacarmu kan?” Yah maklum aku juga penasaran siapa ceweknya kali ini. Secara aku tahu kalau dia dan aku saat kuliah adalah penjajah hati. Meski kini aku telah meninggalkan hobby jelek itu.

Sobatku pun masuk kembali ke kamar kontrakannya sendiri. Dia pun berbisik, menjelaskan kalau gadis itu malu padaku. Gadis itu adalah salah satu adik tingkatku di Fakultas Ekonomi. Memang saat kuliah dulu aku sangatlah populer (wew narsis).

“Ya sudah sobat, aku pamit saja. Aku juga harus bersilaturahim ke sahabat-sahabatku yang lain.”

“Baiklah sobat, lain kai kita lanjutkan diskusi kita.” Sobatku kembali menawarkan diskusi pada orang awam sepertiku. Aku memang belum cukup ilmu untuk melakukannya.

Saat hendak pulang aku mencoba memberikan satu pertanyaan.

“Sobat, katamu bahwa kita harus selamanya shalat, setiap detik, setiap menit. Nah, kalau kamu dan pacarmu itu sedang berduaan di kamar ini apakah kamu tetap shalat? Sudahlah, jangan kau jawab. Moga kelak kita tak lagi berdebat.” Aku tersenyum melihat wajahnya yang memerah. Kujabat erat tangannya dan kuucapkan salam hangat.

Iklan

Responses

  1. iman org kan naik turun… sobat yg baek adalah bisa menjadi tangga waktu iman sohib yg menurun… YUK tegakan shalat…

  2. wew..sahabat yang baik..
    pengen deh punya sahabat yg mau mengingatkan ketika aku lupa…

  3. Salam
    Hmm..skak mat lagi nurut aku..yah shalat itu memang perbuatan yang tak mudah untuk sebagian orang tapi bukankah iman mesti ada dalam hati, lisan dan perbuatan bukan begitu kang ?

  4. wah, gw bnyk blajar dari sene. lam kenal ya semuanya. (heidy 081331607420)

  5. ah…, kesempatan saya sendiri untuk terus belajar meng-imam-i, sampai detik ini baru waktu isya dan subuh 😉

  6. kalo kita sering berteman dengan sahabat rajin shalat pastinya rajin shalat juga!
    nah kalo berteman dengan sahabat yang maen game melulu!
    danger!
    wekekekek!

  7. wah bagus sekali cara anda mengingatkan sahabat anda…semoga sahabat anda segera mendapat hidayah-Nya

  8. semoga sahabat anda diberi hidayah [kembali]

    ma’an najah!!!

  9. wahhh sahabat sejati

  10. Sudah di tetapkan bahwa shalat adalah ritual. kalo selalu mengingat Allah itu dzikir. semoga sobatnya segera sadar. keep spirit mas 🙂

  11. Syarat diterimanya sebuah ibadah adalah ikhlas dan mengikuti Nabi.
    Well…
    Jangan bosan mengingatkan Kang…

  12. iya, kang achoey sahabat yg baik

  13. hua… kena getahnya juga dia

  14. mengena banget pesan kang achoey..

    semoga sahabatnya bisa kembali lg kang..

  15. sholat itu mudah, yang susah itu membuat adanya niat biar sholat itu bisa terlaksana…..

  16. Sholat selalu membuat kita menjadi tenang…sejuk..

    Mungkin nanti jika sahabatnya Kang Achoey merasakannya…Ia baru menyadari arti yang sesungguhnya…Semoga..

  17. kalau berbicara ttg sahabat mmg tiada habisnya..

  18. doain saya ya biar ga ninggalin solat…aminnnnn

  19. hati memamg mudah untuk berbolak-balik

  20. yah begitulah manusia yang menafsirkan ibadah dengan nafsunya, sampai2 mengaku menjadi tuhan gara2 mimpi..
    nafsu itu menyesatkan kalau lepas kontrol.. karena itu kita di ciptakan nafsu dan pikiran, mampu menganalisa..

    itu sih sama aja males, kebanyakan orang yang menafsirkan seperti itu pasti dia males shalat, kalau ada pandangan yang meringankan pasti dia pegan terus, gak mau repot, mintanya instan..

    oh ya mas.. kalau boleh minta tolong, add di blogroll donk, makasih sebelumnya 🙂

  21. manusia yg tengah terkagum-kagum ma otaknya (yg padahal ga seberapa…)

    knapa ya a’?ada manusia model begitu?
    emang apa bagusnya kaya gitu…
    bilang aja males sholat,,,

  22. sebuah kesimpulan cukup menarik terbaca oleh saya di ujungnya, berbicara rasional tidaknya, jawaban yang Bro cetuskan diujung tulisan adalah yang paling rasional di atas sahabat kita kita itu yang meng-klaim diri rasional.

    Salam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: