Oleh: achoey sang khilaf | Agustus 12, 2008

Mimpi Anak Terlantar

Anak-anak kecil itu berjalan menyusuri pekatnya keramaian. Tanpa alas kaki manapaki debu jalanan yang terhiasi lukisan sampah bergentayangan. Suara riuh kendaraan mengusir merdunya kicauan burung. Dan suara anak-anak pun hilang tertelan bisingnya keramaian.

Mereka lihat di hampir semua pinggir ruas jalan. Warna-warni indah sedikit mengkaburkan pandangan. Merah, kuning, hijau, biru, putih, ungu dan beragam kombinasi warna dan gambar. Mencoba menarik simpati tuk tak hanya dilirik. Tapi juga dijadikan tumpuan harapan perbaikan, perubahan.

Anak-anak kecil itu menari dengan riangnya. Seorang diantara mereka mencoba menaiki kaleng cat bekas, lalu berorasi dengan gagahnya.

Suara kita tak-kan lagi serak karena terus berteriak
Ada mereka yang mewakili kita kelak tuk berbicara
Jadi kita harus semangat
Kita yakin para orang dewasa itu mempercayai salah satu dari mereka
Dan merekalah yang kan mensejahterakan kita
Merekalah yang kan berjuang membangun negara kita
Mereka yang tak kan pernah korupsi dan kolusi
Mereka yang tak kan pernah memikirkan diri dan golongannya sendiri
Wahai saudaraku sesama anak negeri
Mari kita doakan agar ini tak lagi hanya mimpi
.

Tiba-tiba kumpulan anak itu bubar berlarian. Menghindar dari para pria dewasa berseragamkan keamanan dan ketertiban. Yang tertinggal di sana hanyalah secarik kertas bertuliskan.

“Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara.”

Lalu para pria dewasa itu pun menghela napas. Ini hanyalah tugas.

Ini hanyalah fiksi semata. Semoga tak ada di kehidupan nyata. Amin!

Iklan

Responses

  1. tuntutan tugas yg tak manusiawi
    salah siapa? entah…

  2. Apa mau dikata, pembenahan harus mulai dari akarnya…:D

  3. para petugas trantib itu menjalankan tugas dengan dilema, tau ngga sih….

  4. sangat menarik pola penulisannya, menyiratkan sebuah bentuk deep thought, lanjut bro

  5. sebuah tugas dari sang komandan memnag hrs segera dilaksanakan,walaupun itu kadang bertentangan dgn bathinnya.
    yach,tugas harus tetap dilaksanakan.
    dan bagi pemerintah tolong dengarkan orasi para sekumpulan anak-anak bangsamu ini!

  6. TAPI..DI KEHIDUPAN NYATA ISI ORASI MEREKA BUKAN FIKSI KOK PAK…aDA!

  7. mungkin pria-pria itu menangis ketika bertugas, mungkin juga pria-pria itu tertawa

    seperti juga pria-pria berseragam coklat dipinggir jalan
    yang katanya aparat

    who knows?

  8. hehehe… kebetulan hal diatas memang terjadi… cukup sering lagi, lha buktinya ini masih bisa komen di blognya sampeyan, hehehehehe…

    semua pasti sudah terencana, sepertinya tinggal bagaimana kita bersikap, dan mungkin bertindak…

    kalo gak salah :p

  9. hmm suka nulis fiksi ya ?

  10. Terlihat, ad prediksi 3 partai besar dr tulisan merah d atas *kidding kak :mrgreen:

  11. “Ini hanyalah fiksi semata. Semoga tak ada di kehidupan nyata. Amin!”

    amin…
    tapi kayaknya itu ada dlm nyata kehidupan ini deh..

  12. benar2 menggugah hati….
    miris memang ketika anak2 ini kehilangan senyum mereka karena keringat dan peluhnya….

  13. “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara.”

    sepertinya malah diterlantarkan oleh negara

  14. Itu, bukan mimpi….

  15. Indonesia merdeka? 63 tahun bukan waktu yang relatif muda untuk sebuah negara memang, dan sangat disayangkan kemerdekaan yang ada malah menggunungkan banyak problem dimana?
    Saya sendiri binun harus bagaimana memerdekakan hak mereka.

  16. kayaknya bukan fiksi itu kang.. bener2 realita di negara kita.. 😦

  17. banyak fakir miskin dan anak terlantar yang terbengkalai…

  18. dan pagi ini aku saksikan antrean ambil dana BLT di kantor kec. Driyorejo

    mereka tua, lumpuh, harus antri dan tak dapat diwakilkan

  19. ah…gt itu bisa ajah bisnis 😆

    *negative thinker

  20. Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Yeah, teori lebih banyak berbicara, faktanya NOL BESAR!!!

  21. bagus sekali tulisannya mas..

    iya, memang kondisi ini kok kayak lingkaran setan bgt ya.. siapa menyalahkan siapa, gak ada ujungnya..

    kalau udah gini, masihkah kita bisa percaya sama pemimpin2 di atas sana?

    atau memang kita masih harus jadi pemimpi?

  22. ya ya, di kehidupan nyata pun ini benar terjadi..

  23. hiks….
    sedih juga menjadi seperti itu

  24. sesungguhnya diantara keduanya adalah bukan tanggung jawab pemerintah semata,,itu adalah tanggung jawab setiap manusia, mengasah kepekaan sosial,,( diantara sebagian hartamu ada hak anak yatim dan fakir miskin.)

  25. anak yg terlantar atau memang di orginisasi untuk telantar
    tapi bagaimana pun tetap kasihan

  26. jangan sampai terjani hal yang anarkis

  27. duh, saya ikutan sedih …

  28. untuk bisa miara fakir miskin dan anak terlantar, negara harus kaya dulu dong

    (ups, emang udah kaya ya, tapi ngga cukup pinter 😀 )

  29. hidup republik mimpi!

    halah, nggak nyambung. hwehe…

    (^_^)v

  30. jangan-jangan….
    sekarang ini kita cuma tengah berada didalam novel yang berjudul Republik Indonesia ya?
    waduh, jangan sampe deh ya.
    please, wake me up!

  31. Anak-anak saja berorasi. Walau fiksi, tapi ini kejadian yang sangat mungkin biasa-bukan bisa-terjadi di negara kita.
Banyak parpol cuma jual janji. Mimpi.
Akhirnya yang protes gak cuma orang dewasa, tapi juga anak-anak.
Tulisannya oke, saya suka bagian yang naik ke atas kaleng cat itu trus berorasi. Kesannya lucu, tapi sebenarnya satir. Salut.

  32. saya juga mau dipelihara negara!
    wekekekeekek!
    tapi saya bukan anak terlantar!

  33. Salam
    Bukankah itu pemandangan biasa 😦

  34. itu nyata dan bukan fiktif a’
    mreka ada disekitar kita?lalu apa guna dari pasal ituh,entahlah..??

  35. itu benar adanya ….

    fiksi kehidupan Indonesiaku

    anak-anak belum tahu bagaimana menyuarakan keinginan mereka … dan kelak ketika mereka telah berusia sama dengan achoey … mereka pun akan mempunyai pikiran sama dengan fiksi yg telah ditulis …

    semoga … disaat itu mereka akan menuliskan sebuah fiksi mimpi yang telah terwujudkan

    amin


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: