Oleh: achoey sang khilaf | September 11, 2008

Tiga Tahun Merantau di Bogor (Bagian 2)

Tak pernah terbersit sebelumnya kalau kota ini adalah pijakan harapan. Karena Tasikmalaya adalah kota berjuta pesona yang jauh lebih mampu memikat hatiku. Tapi ternyata orang tuaku lebih setuju jika aku melabuhkan peran kehidupan di kota ini. Mereka yakin bahwa anak lelaki pertamanya mampu untuk lebih mengoptimalkan potensinya di sini.

Memang mungkin ada benarnya, baru sekitar 3 bulan aku terdampar wajahku sudah terpampang di harian Radar Bogor. Dua edisi tepatnya wajah kampung itu nampak. Dan yang lebih membuat orang tuaku bangga adalah ketika aku duduk bersebelahan dengan “Raja Kuis” yang tak asing lagi di mata mereka.

Aku memang bahagia bisa mendapatkan kesempatan berdekatan dengan salah satu tokoh yang kukagumi itu. Kukagumi atas jiwa entrepreneurship-nya, karena sebagai alumni STAN terbaik dia sebenarnya memiliki kesempatan besar tuk meniti karir di Dept. Keuangan. Tapi dia lebih memilih menjadi seorang entrepreneur.

Aku bersamanya di dua acara. Yang pertama acara Talk Show “Menjadi Lebih Jenius” pada tanggal 17 Desember 2005, kala itu aku sebagai Ketua Panitia. Dan yang kedua pada acara Talk Show “Menjadi Pribadi Unggul dalam Menghadapi Kompetisi Global” pada tanggal 4 Maret 2007, waktu itu aku sebagai MC.

Pengalaman-pengalaman berharga dan kesempatan-kesempatan terbaik inilah yang menjadikanku merasa mendapatkan banyak benefit dari apa yang telah kukorbankan. Dan yang kukorbankan ini adalah profit yang idealnya kudapatkan jika aku bertahan di Cikarang. Dan aku pun tak menyesal jika kemarin seorang sahabat baikku di Cikarang datang menemuiku dengan menunjukkan mobil barunya. Setelah sebelumnya dia pun memberiku kabar beruntun mulai dari kepemilikan rumah, istri, anak dan tempat usaha.

Dan hal inilah yang membuat aku makin semangat tuk membuktikan, bahwa DI SINI AKU BISA. Insyaallah 🙂

 

Oleh: achoey sang khilaf | September 11, 2008

Tiga Tahun Merantau di Bogor (Bagian 1)

Tidak terasa sudah tiga tahun lamanya aku merantau di daerah ini. Dan aku sangat bersyukur karena di sini aku merasa telah memiliki banyak teman dan banyak hal yang membuat diri ini merasa nyaman. Padahal tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa aku di sini bisa bertahan lama. Karena memang niat semula hanyalah untuk sementara saja. Dan kembali ke Cikarang, Bekasi di mana di sana beberapa garapan pekerjaan telah menantiku kembali.

Awal aku terdampar di sini adalah untuk membantu seorang rekan bisnis saudaraku yang kan mengadakan pameran. Tugasku adalah melobi beberapa pentolan sebuah perusahaan rekanan. Dan alhamdulillah kegiatan bisnis ini berjalan lancar dan sukses.

Malamnya aku dijemput untuk kembali diboyong ke Cikarang, tetapi rekan bisnis saudaraku itu memintaku memperpanjang waktu keberadaanku di sini. Dia ingin aku membantunya tuk merintis sebuah frenchise lembaga bimbingan belajar dan sebuah lembaga kursus bahasa Inggris. Dan karena permintaan itu sepenuh hati akhirnya kutambahkan waktuku satu bulan ke depan. Dan ketika satu bulan terlalui sudah, aku pun di pinta bertahan sampai tiga bulan. Dan alhamdulillah dua lembaga pendidikan itu pun sudah berdiri dan tersosialisasikan. Bahkan sudah mulai beroperasi menjalankan proses penawaran jasanya.

Aku memang sangat suka akan tawaran merintis sebuah unit usaha. Memang cita-citaku adalah menjadi seorang pengusaha karena itu sesuai dengan back ground pendidikanku yakni Manajemen.

Dalam perjalanan tempo waktu tersebut, telepon dari Cikarang teratur berdering tuk memintaku segera kembali ke sana. Tak hanya untuk garapan yang memang kutinggalkan, tapi tawaran-tawaran baru terus bermunculan. Aku sendiri bangga akan aktualisasi diriku yang begitu baiknya di sana. Dari segi penghasilan pun jelas di Cikarang lebih besar, tapi jejakku harus ada di kota ini.

Di kota ini aku pernah menangani beragam unit usaha. Dan kemampuanku tertempa karenanya. Bagiku waktu bukan hanya harus ditukar dengan gaji, melainkan bentuk investasi untuk terus belajar serta menggali dan mengembangkan potensi. Di sini aku sempat merasakan bagaimana membantu mengelola sebuah toko buah dan sebuah kafe. Dan jujur ini banyak membantuku untuk mengelola Kedai Mie Janda milikku dan sahabatku kini.

Aku sangat berterima kasih pada sahabat-sahabatku yang berkenan menjadi bagian dari tim yang solit. Tim perintis yang dengan cepat mengenali sosok aku, orang kampung yang suka tantangan. Mereka semua yang memiliki andil besar hingga apa yang kurancang berjalan lancar. Dan kini mereka telah berpencar pada posisi masing-masing. Di perusahaan dan kota yang berbeda. Dengar-dengar menyebar tak hanya di Bogor dan Jakarta, tapi juga Bandung, Batam dan Soroako. Ah indahnya jikalau kita semua bisa kembali berkumpul sahabat.

Oleh: achoey sang khilaf | September 10, 2008

Seiring Senja

detik menggelitik menit yang genit

sehingga jam terus berjalan memacu lajunya waktu

tak ada yang abadi dalam diri

sesuatu yang serba dipuja dulu

kan hilang pesonanya seiring senja

lalu kenapa kita harus bangga

karena ketampanan dan kecantikan yang sebenarnya

adalah beningnya hati serta indahnya kata dan tata gerak raga

dan semoga kita bisa menggapainya

(foto di atas adalah foto muda dulu, bukan berniat narsis, karena kini semuanya telah berubah seiring senja)

Oleh: achoey sang khilaf | September 10, 2008

Lelaki itu adalah Aku

Ada cerita lucu ketika tadi malam aku sedang menyantap sajian berbuka di Kedai Mie Janda. Kejadian itu bermula ketika ada sepasang remaja yang mengunjungi kedai itu. Sejak awal masuk kulihat sang gadis cantik yang masih amat belia menetapkan tatapannya padaku. Ternyata hal ini dengan cepat tertangkap radar kecemburuan sang jejaka.

Sang gadis memilih meja yang bersebelahan dengan meja di mana Sang Khilaf sedang asyik dengan santapannya. Posisinya memang memungkinkan bagi sang gadis untuk tetap curi-curi pandang. Tapi apa yang terjadi, sang jejaka duduk merapat dekat sang gadis. Tepat memotong garis akses horizontal tatapan antara aku dengannya. Aku tersenyum, benar-benar merasa telah melihat peristiwa yang lucu. Jejaka itu tidak tahu, kalo saat ini aku telah jinak, tidak seperti dahulu. 😀

Ngomong-ngomong tentang masa lalu, seringkali aku dicurigai para jejaka akan mengganggu stabilitas hubungan mereka dengan pasangannya. Bahkan pernah aku tiba-tiba diancam oleh seorang pemuda, gara-gara pacarnya mungkin mengiodalakan aku (narsis). Dan aku hanya senyum-senyum dan membiarkan jejaka itu akhirnya malu sendiri. Malu atas apa yang telah dia lakukan.

Nah bicara tentang sikap sang jejaka seperti di atas mungkin ada yang menyebutnya over protective atau juga possessive. Jujur, saat ini aku sudah tidak termsuk pada jalur orang yang sepakat dengan metoda pacaran pra nikah. Tapi jika boleh bertanya pada sahabat yang lain, bagiamanakah sikap Anda jikalau Anda memiliki pasangan yang over protective atau possessive seperti ini?

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori