Oleh: achoey sang khilaf | Juni 25, 2008

Diorama Dua Hati (cerita fiksi bersambung bagian lima)

Sujud syukur tak terbantahkan lagi. Atas kelulusan adiknya yang diterima di Jurusan Teknik Sipil UI. Adiknya yang selama dua bulan ini dia paksakan tuk mengintensifkan belajarnya, akhirnya berhasil juga. Teknik Sipil bukanlah pilihan adiknya memang, melainkan keinginan sang ayah. Dan sang ayah merekomendasikan jurusan itu pastilah bukan karena tanpa alasan. Ya, karena sang ayah juga bekerja dibidang yang sejalan, meski hanya seorang kuli bangunan. Kuli bangunan yang kini telah memiliki banyak anak buah.

Besoknya dia pergi mengantar adiknya tuk melakukan daftar ulang. Dan ketika Ali coba mengecek saldo di rekeningnya, dia amat terkejut. Terdapat penambahan jumlah saldo yang cukup signifikan. Tiga puluh juta rupiah jumlah tepatnya. Dan ketika Ali coba telepon ayahnya, dia baru tahu kalau uang tersebut adalah transferan dari sang ayah. Dan sang ayah bilang kalau uang tersebut untuk biaya masuk kuliah adiknya dan sisanya untuk tambahan biaya pernikahan Ali sendiri.

“Nak, makasih ya. Sebagai kakak kau telah sangat berjasa membantu adik-adikmu untuk bisa mencapai keinginannya. Kami di sini sangatlah bangga. Ibumu hampir semalaman menangis ketika kau kabarkan bahwa adikmu lulus di UI. Dia sangat bangga dan terharu. Betapa tidak bahagia ketika ibumu menyadari bahwa dia memiliki anak-anak yang cerdas dan baik hati. Anakku, tanpa sepengetahuanmu ibumu telah membeli 30 gram perhiasan emas untuk mas kawin yang kan kau berikan pada calon istrimu nanti. Tidak terlalu mewah memang, tapi ini cukup menunjukkan izzah keluarga kita. Anakku, terima kasih atas semua pengorbanan dan kesabaranmu. Sekarang saatnya kau memikirkan dirimu, segera kenalkan pada kami biadari itu. Agar kami merasa tenang menikmati masa tua. Ingat, saat lebaran tiba, kau telah berjanji tuk membawa personil baru memperkuat keharmonisan tim keluarga kita.”

Itulah untaian kalimat di telepon dari sang ayah yang membuat Ali tak kuasa melinangkan air mata. Dia tidak sadar bahwa sedari tadi banyak yang memperhatikannya. Termasuk beberapa mahasiswi yang entah mereka semseter berapa di sana.

———-

Ali sudah memiliki janji akan mengunjungi rumah guru ngajinya selepas isya. Tapi ketika dia beranjak meninggalkan masjid, seseorang menyapanya dari belakang.

“Assalamualaikum nak.”

“Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.” Ali segera menoleh ke belakang dan ditatapnya seorang bapak-bapak yang sebenarnya sering dia jumpai dalam barisan shaf menghadap Illahi di masjid itu. Lalu Ali pun tersenyum ramah.

“Nak Ali ya? Maaf bapak mengganggu. Jikalau nak Ali tidak keberatan, Bapak mau mengajak Nak Ali mampir ke rumah barang sebentar.”

“Iya Pak.” Ali berpikir sebentar, dia ingat kalo dia ada janji mau bertemu guru ngajinya. Skala prioritas memang harus dilakukan, tetapi membagi waktu dengan baik toh mungkin bisa dia lakukan. Lalu Ali pun berkata kembali. “Maaf ya Pak ….”

“Pak Anwar”. Bapak-bapak tadi menginformasikan dengan sigap.

“Oh iya Pak Anwar, jikalau berkenan tuk menjelaskan apakah gerangan sehingga Bapak mengajak saya mampir?” Ali coba bertanya tuk bisa menentukan kebijakan.

“Sebenarnya ini tentang sesuatu yang sangat penting. Menyangkut keselamatan anakku.”

“Maaf Pak, ada apa gerangan dengan anak Bapak. Kecelakaankah?”

“Tidak enak Bapak menceritakannya di sini. Ini tentang anak apak yang masih kecil. Yuk nak, ikut Bapak. Bapak benar-benar butuh bantuanmu.”

Dan Ali pun menurutinya. Dia melihat si Bapak sedang dalam masalah, jadi kehadirannya memang benar-benar diperlukan.

———-

Ali mendamparkan diri pada sajadah. Dia menangis, dan mengadu pada Sang Maha Tempat Mengadu. Janji bertemu dengan guru ngajinya dia batalkan. Dan alhamdulillah guru ngajinya mengerti.

Dia coba kembali mengingat-ngingat pembicaraan tadi. Terlebih pada kalimat yang masih saja terngiang terasa berat.

“Nak Ali yang semoga senantiasa dirahmati Allah. Itulah maksud Bapak mengajakmu kemari. Setelah Bapak melakukan shalat istikharoh beberapa kali. Bapak yakin kau adalah lelaki yang tepat tuk menjaga dan menyelamatkan anak kecil Bapak ini. Dia satu-satunya anak Bapak, dan Bapak ingin dia tidak celaka, Bapak ingin dia nyaman terjaga. Maka Bapak harap, nak Ali bersedia menikahi dia.”

Memang tak terbayangkan ternyata lelaki ahli berjamaah itu begitu mempercayainya. Mengamanahkan anak gadisnya tuk bisa Ali jaga. Anak gadis yang sulit terbayangkan seperti apa parasnya. Dari gambaran yang Pak Anwar ceritakan kalau anak gadisnya ini masih kecil, jelek dan kurang mampu berjalan sendiri. “Ya Allah, apakah dia juga lumpuh atau pincang. Ya Allah kuatkanlah hambamu ini.” Gumam Ali.

Lalu Ali pun teringat kembali sosok Rani. Padahal rencana Ali untuk bertemu guru ngajinya adalah untuk meminta pandangannya mengenai rencana Ali untuk melamar Rani. Itu pun jika memang ternyata Rani belum menikah. Karena walau bagaimana pun, hanya Rani lah yang saat ini membuat hatinya cenderung.

Ali tetap harus bertemu guru ngajinya. Ali harus menceritakan mengenai permasalahan yang dihadapinya. Permasalahan yang sedang membuatnya tuk bisa lebih dewasa.

(insyaallah bersambung)

—————————————————————————-

Bagaimanakah kisah selanjutnya. Apakah Ali menuruti permohonan ak Anwar, ataukah Ali memaksakan diri tuk mencoba melamar Rani yang belum tentu masih lajang itu?

Iklan

Responses

  1. cerita bersambung ya kang….
    pasti masih panjang lagi ceritanya… 😉

  2. selamat belajar

  3. heheheh masih bersambung kang 😀

  4. berapa hari gak kesini dah sampe bagian lima? 😀 tadi baru aja catch up… hmm.. ayu.. buruan nyambung.. aku jadi penasaran kalo ada cerita bersambung ginih.. haduuuh.. besok balik lagi ah 😀

  5. aiiihhh bagus ceritanya….ada bakat choey…ada kang abik baru niy 😉

  6. lanjut…..

  7. sungguh mati
    aku jadi penasaran
    sampai matipun
    akan ku perjuangkan

    *berjuanglah Ali. Chayo Chayo*

  8. wuih panjang pisan euyy…

  9. aku kira satu cerita dari kemaren, ternyata beda

  10. ealah.. lagi enak2 baca bersambung.. hihi ditunggu kelanjutannya

  11. nice blog..nice post..inspiratif banget..salam kenal

  12. Moga-moga Ali mau menikahi Rani … 🙂

  13. hmm…. endingny udh bs ckup bikin penasaran, tapi koq gak nyambung ama previous story bro..:-) .Saya kmarn udh curious abis tntang ap ya isi sms itu… ,brharap trjdi “kterkejutan” di next episode gtu^_^oke. mga jd masukan bgus!! keep at good work bro
    . sy gk mau ksh nebak2 ap yg trjdi ,pastinya sang penulis punya “rencana” yg lebih keren. Last but not least, baju bagus baru dijemur, Ayo Maju terus pantang mundur!

  14. hmm.. kayanya sih Ali tetep harus ketemu juga dengan anak Pak Anwar, mungkin saja kondisi sebenarnya akhwat itu ngga seperti yg diceritakan ayahnya, malah saya rasa dia adalah seorang wanita yang amat cantik dan pintar.

    waaahhh… jangan2 begitu ketemu anaknya Pak Anwar itu, ternyata dia adalah RANI.. *wuaaaaaa*

    kayak ada miripnya ma ayat2 cinta niy. sewaktu Fahri mo ketemu Aisyah.. hehe..

    ditunggu lanjutannnya kang Achoey.

  15. wuih… keknya serius nih bakatnya… 😆 kasi tau ya kang kalo dah dinovelkan…

  16. mmm…bagus juga ceritanya, tapi critanya mungkin mirip kaya crita yang sering aku dengar…
    ada seorang cow yang dijodohkan oleh bapaknya cew tsb, sang ayah mengatakan bahwa cew yang akan dijodohkannya itu buta, tidak bisa mendengar,bisu etc…
    sang cow merasa penasaran dan khawatir akan kondisi cew tersebut, tetapi dia pasrah dan akhirnya menikahi cew tsb dan setelah ketemu dengan cew itu..SuhanaAllah cew itu cantik banget, anggapan bahwa cew itu bisu karena dia tidak pernah mengatakan hal2 yang kotor, dikatakan buta karena dia tidak pernah melihat hal-hal yang maksiat…etc
    mungkin aja ending critanya mirip kaya cerita ini..
    tapi penasaran juga ma endingnya

  17. Gusti!

    puanjang skaleeee

    haruskah baca dari awal?

    heuheu

    nanti ajah bacanya kalow dah dibukukan 😛

  18. Ali akan menikah dengan…
    eng ing eng… siapa hayo???

  19. KMN 2008 (Kompetisi Matematika Nasional) Hadiah utama 10 JUTA
    Message:
    Ikuti Kompetisi Matematika Nasional 2008 antar SLTA tingkat Nasional. Sebuah ajang yang membudayakan kompetisi antar siswa SLTA pada tingkat nasional bidang ilmu matematika, dan mengenalkan peran IT pada guru dan siswa SLTA.
    Jadwal Kegiatan
    Pendaftaran: 1 Juli – 5 Agustus 2008 Pelaksanaan 12 – 14 Agustus 2008
    Tempat Kegiatan
    Grha STMIK AMIKOM Yogyakarta,
    Jl. Ringroad Utara Condong Catur, Yogyakarta.
    Pendaftaran
    Biaya Pendaftaran: Rp. 50.000,- / tim
    Tempat Pendaftaran: via Online http://kmn.amikom.ac.id
    Pembayaran dapat dilakukan melalui transfer Bank Mandiri cab. Gejayan Yogyakarta
    No. Rek. 137-00-0540110-0 a.n. Armadyah Amborowati
    Penghargaan (Award)
    * Juara 1 : 10 juta rupiah + beasiswa studi di STMIK Amikom Yogyakarta
    * Juara 2 : 8 juta rupiah + beasiswa studi di STMIK Amikom Yogyakarta
    * Juara 3 : 6 juta rupiah + beasiswa studi di STMIK Amikom Yogyakarta
    * Harapan 1 : 4 juta rupiah + beasiswa studi di STMIK Amikom Yogyakarta
    * Harapan 2 : 2 juta rupiah + beasiswa studi di STMIK Amikom Yogyakarta

  20. Baru mampir kemari udah part 5 ya? Baca2 lagi cerita sebelumnya ah..

  21. wah.., rencana aq mo koment kalau dah tamat sahabat. tapi gak sabaran juga neh mo ikut ngeramein coment… tp hmmm, kira-kira pe berapa episod lagi ya..

  22. akhirnya, ali akan melanjutkan sekolah ke luar negeri.
    *wah, gak nyambung*
    ayo, posting ya ke6!

  23. Sriuz, baca paragraf3 aku mendadak sensi… hiks3… Keikhlasan Ali (mendahulukan membantu adik2nya) berbuah kebahagiaan (transfer dri ayah, dah emas yg dibelikan ibu). Truzzz gimana???


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: