Oleh: achoey sang khilaf | Juni 27, 2008

Diorama Dua Hati (cerita fiksi bersambung, mungkin tamat)

Tekad Ali sudah bulat, meski dia sadar bahwa dia adalah sosok lelaki yang masih dangkal ilmu dan berpenghasilan pas-pasan, dia kan terus maju mendobrak semua keragu-raguan. Untuk menjadi imam yang baik pun belum mumpuni, tapi selama hayat masih dikandung badan maka Ali akan terus belajar dan memperbaiki diri.

Guru ngajinya sudah bersedia menemani, dia kan jemput dengan senag hati. Baginya, Pak Ustadz adalah ayahnya di kota ini. Dengan memakai pakaian batik bercorak dan celana kain hitam dia pun meluncur ke rumah Pak Ustadz dengan menggunakan motor bebeknya.

Tapi ternyata Pak Ustadz sudah pergi dari rumah dan istrinya pun tak menjelaskan secara rinci kemana Pak Ustadz pergi. Istrinya memang sudah sangat percaya akan aktifitas suaminya itu. Karena sang suami adalah lelaki yang amanah.

Ali tak bisa membuang-buang waktu. Dia pun berani bertandang ke rumah Pak Anwar meski seorang diri. Ritme jantungnya memang sudah tak beraturan, rasa berbaur tak terelakan, cemas, gembira dan rasa penasaran. Dan ini yang membuat Ali tak sadar kalau dia sudah sampai di halaman rumah Pak Anwar. Ali menarik nafas panjang menstabilkan emosinya. Tak terlewat do’a pun terucapkan. Sesuatu yang harus dilakukan untuk mengawali peristiwa yang sakral ini.

Pintu pun di buka oleh sang penghuni rumah setelah salam Ali terbalaskan. Dan sosok lelaki berwajah teduh itu yang membukakan pintunya. Alu pun menjabat tangan Pak Anwar dengan penuh rasa hormat, dan Pak Anwar menunjukkan keakraban dalam jabat eratnya. Dan ternyata ada sosok lelaki lain di ruang tamu itu. Dia adalah guru ngajinya. Nah lho Ali pun kaget bercampur bahagia. Kaget kenapa Pak Ustadz ada di sini dan bahagia karena Pak Ustadz bisa menemaninya. Tapi Ali tak mau menanyakan hal kenapa Pak Ustadz sudah ada di situ. Bukan lagi hal yang penting untuk dipertanyakan. Yang terpenting saat ini adalah, bagaimana yang harus dia lakukan selanjutnya. Apakah dia yang harus mulai mengutarakan maksud kedatangannya, tapi bukankah dia datang karena dipinta Pak Anwar untuk melakukannya. Ya, mengkhitbah gadis ini adalah permintaan ayahnya, jadi biarkan saja ayahnya yang menjadi pengatur acara, pikir Ali.

“Jadi sudah siapkah akhi.” Pak Ustadz menepuk bahu kanan Ali. Ali pun sontak terkejut dan berkata.

“Ya Ustadz.”

“Baiklah. Pak Anwar sahabatku yang semoga senantiasa dirakhmati Allah, kedatangan kami ke sini adalah untuk melamar putri Bapak satu-satunya. Kami sadari bahwa anak kami bukanlah lelaki yang baik, tapi kami yakin bahwa anak kami ini akan selalu berusaha tuk menjadi lelaki yang baik. Karena hanya lelaki yang baiklah yang bisa menjaga nama baik dirinya, istrinya dan keluarganya.”

“Sahabatku Ustadz Ahmad yang juga semoga dirakhmati Allah. Dan ananda Ali yang insyaallah Bapak percaya kau adalah lelaki yang terbaik untuk menjadi imam putriku satu-satunya. Bapak sangat terhormat atas niat tulus ananda tuk meminang putri Bapak. Tapi sebelumnya, ada baiknya ananda langsung mendengar jawaban dari orang yang bersangkutan. Sekaligus ananda pun bisa sedikit tahu, siapa sebenarnya gadis yang kau pinang itu.” Lalu pak Ali pun menoleh ke arah ruang tengah rumahnya dan kembali berkata lembut. “Putriku, kemarilah sayang!”

Ali semakin deg-degan. Wajahnya tertunduk tak kuasa menatap wajah teduh yang berbicara. Apalagi untuk menatap gadis yang kan dipinangnya itu.

Gadis itu datang menghampiri ruang tamu didampingi ibunya. Air matanya terus berlinang tak bisa ditahannya. Subhanallah, jangan tanya kecantikannya. Jika Ali sekarang menatapnya dia pun takkan membantah berjuta pesona gadis ini. Lalu gadis tersebut duduk disamping sang ayah dengan wajah yang tertunduk pula seperti halnya Ali.

“Ya sayang, bersediakah kau untuk dipinang lelaki muda yang ada di hadapanmu itu?”

Tak ada kata, hanya anggukan saja. Ini sebuah isyarat jelas bahwa gadis ini bersedia. Tapi Ali takkan tahu jika tidak diberitahu peristiwa tadi. Karena Ali tetap tertunduk, semakin tertunduk.

“Ali anakku, putriku ini telah menyatakan bersedia. Kini giliran Bapak mengetahui kesungguhanmu. Karena bisa saja kau berubah pikiran. Dan kami siap jikalau itu ananda lakukan. Tataplah sejenak anak gadis Bapak ini. Tataplah dia, dan katakan kembali apakah kau benar-benar ingin meminangnya. Ayo tataplah ananda!”

Ali tetap tertunduk. Kepalanya terasa berat untuk ditengadahkan.

“Ayo anakku, tataplah.” Kini giliran Pak Ustadz yang memberikan perintah.

Ali pun menatapnya dengan perlahan. Dan suara lembut pun terucapkan. “Rani.”

“Ya akhi.” Suara lembut sang bidadari pun segera menyambutnya.

Kedua mata beradu pandang, kedua hati tertaut sudah. Tapi tak boleh terlena, karena akad belum terlaksana. Dan mereka harus segera mengendalikan diri. Kebahagiaan itu cukup mereka tanam di dasar hati. Sebagai modal tuk kebahagiaan yang panjang. Kebahagiaan yang senantiasa menyelimuti perjalanan mengayuh bahtera cinta, hingga harapan mereka terlaksana, bersama tak hanya di dunia, tapi juga di syurga.

Seisi rumah mengucapkan alhamdulillah. Tanda syukur atas kerelaan dua hati.

“Afwan ananda Maharani Grianingtyas Safitri, Bapak kembalikan biodatamu ini. Pemuda itu tak mau membuka dan mempelajarinya. Dia lebih memilih datang langsung seperti ini.” Pak Ustadz memang bisa. Pak Anwar dan istrinya yang tahu akan masalah ini tertawa kecil seiring dengan merah muka Ali. Karena Ali tahu bahwa amplop itu adalah amplop berisi biodata yang selama lima hari ada di rumahnya.

—-

(Cerita ini masihlah panjang, tapi sepertinya tak perlu dipublikasikan. Biarlah Novel yang mengupasnya lebih jauh. Mungkinkah?)

—————————————————————————-

Sahabat, bukankah ini

Iklan

Responses

  1. waks… namanya bagus banget… Maharani Grianingtyas Safitri … Grianingtyas artinya rumah hati… bener ga kang? 😀 keren euy!!

  2. Alurnya datar tapi pesannya dalam, betapa penempatan tawakal yang sesungguhnya akan berbuahkan keberkahan yang tak terduga…..!!!

  3. Akhir ceritanya gimna yack?:-D

  4. Paragraf 1, stuju dwong…..
    Jujurya bang, aku srasa berada disana nyaksiin dua insan yg tertunduk malu, diambang bahagia (disini klimaks critanya)……Dugaan, sekaligus keinginanku benar tercapai.. hfffffff alhamdulillah seneeeng liat dua sejoli dipertemukan dgn cara seperti ini. Turut bahagia bgt buat Ali & Rani!!!
    Srasa ikut di rombongan lamaran deh hehe….
    Cuma ada sedikit pertanyaan, apa yg telah trjadi pada Rani?, kemana aja selama ini ya?. waktu smu nolak ali pa karna si ali playboy?, cuma itu alasannya?…. Tpi biar lah hanya mereka berdua yg tahu kalau memang ini adalah rahasia yg perlu disimpan rapat2…. :D:D

  5. Ceritanya jadi sebuah novel ??? 🙄

    bagaimana kalo dirimu selipkan juga sebuah undangan walimah di dlm novel tersebut… 🙂

    Ni cerita ACHOEY bangetttt 🙂

    *maaf baru bisa mampir lagi*
    *virusnya masih dibasmi* :mrgreen:

  6. tamat……
    bissmillahirrohmanirrohimm,,,
    aaamiiinnnnnnnnnnnnnnnnnn……
    dlam khidupan nyata pada diriantumjuga akan sama…….

    keren….idah banget…
    semogaitu doa antum…

  7. oh iya ketinggalan ….
    kata2 antum di atas bagus jg…
    namun kemampuanku bukan utuk ditunjukan..
    kempuanku utnk dirasakan…
    yang dirasa tak mesti dilihat…
    dan yang terlihat tak mesti terasa,,,
    demikian rasa adalah hakikatku….

    hehehehehheh,…

  8. Sangat terasa, emosi yang sudah hampir tak terbendung dari Sang Penulis. Hmm….

  9. Mungkin, kenapa tidak mungkin. Dalam bentuk novel dapat dibedah lebih jauh lagi. Karakter tokohnya bisa lebih dikupas lebih dalam. Dan plotnya bisa dikembangkan lagi. Atmosfirnya sudah dapet.

  10. hore…
    happy ending neh…
    artinya kang achoey jg akan segera menikah…

    ali=achoey

    githu kan???

    selamat selamat

    berkurang lagi bujangan di dunia ini………^_^v

  11. Cerita nya bagus sekali…..
    sampe aku gak bisa koment

  12. Duh ,Ksatria pena kita tidak menyerah tuk terus ber-usaha kan?

    Didukung deh! Jadi Novel sip-sip . tpi nanti jgn mirip2 A2C ya. Membalikkan tebakan pembaca, itu dahsyaat…! Mga jd Novel yang subhanallah ,inspirational dan bisa memberi k0ntribusi bagi para ummat. Amien2 ya robbal ‘alamiien…

  13. bagi umat maxudna^_^. *digetok pakar bahasa nih nanti*

  14. wah…… cerita seru…, ternyata suka bercerita juga ya…. teruskan bakatnya :d

  15. wah udah tamat…
    udah jadi novel dong 😀

  16. waa…. happy ending yaaahh 😀 saya senaaang.. kirain bakal ada intrik2 gituh.. hueheheh.. bagus tuh kalo dijadi’in novel.. dipanjangin ceritanya.. Sayah pasti beli 😛

  17. saya menunggu cerita lengkapnya dalam novel, mas achoey. mudah2an saya bisa lebih intens dalam menikmati konflik ceritanya. salam kreatif!

  18. alhamdulillah… 🙂

  19. setelah melalui begitu banyak kegelisahan dan kebimbangan, Ali akhirnya bisa bernapas legaa 🙂
    Allah memberi apa yang Ali minta sebenarnya di lubuk hatinya.
    Ending yang menyenangkan.. 🙂

    Nice fiction Kang, keep writing..!

  20. sebenernya saya ga pernah habis mikir, kok bisa menikah dg orang yang dikenal hanya lewat secatik kertas biodata

  21. hmmm jai gimana kang, bersambung atau tamat???

  22. dibikin novel kang..
    dijual buat pelanggan mie janda.. 😀

    lha terus ngundangnya kapan neh.?

  23. horeeeeee
    selamet ya kang Achoey ehhh salah Kang Ali 🙂
    Di tunggu tanggal resepsinya

    *makan-makan mie janda gratis*

  24. kenalin dong ama Neng Rani…..

    *ngarep mode on*
    *berobat gratis deh sama saya*

  25. Indah, santun, romantis, islami. Yang paling saya suka, dari bag 1 hingga bagian ini (tamat?), selalu terselip hikmah dan dakwah.

  26. ceritanya bagus *empat jempol* kapan ya bisa bikin cerita seperti ini? huhuhu 😦

  27. Tergantung mau penulisnya; itulah hebatnya penulis, menentukan segala seuatunya

  28. oh…ini berdasar pengalaman pribadi ya, kang? 😆

  29. kalo novelnya sudah keluar saya di bagi satu yach…plus tanda tangan

    jangan lupa

  30. eh.. nih ceritanya beneran mo dijadi’in novel kah? 😀

  31. ditunggu novelnya pak…
    sukses yah…

  32. satu lagi ah…….

    mau bikin yang punya blog kesel neh…

  33. Ikuti Kompetisi Matematika Nasional 2008 antar SLTA tingkat Nasional. Sebuah ajang yang membudayakan kompetisi antar siswa SLTA pada tingkat nasional bidang ilmu matematika, dan mengenalkan peran IT pada guru dan siswa SLTA.

    Jadwal Kegiatan
    Pendaftaran: 1 Juli – 5 Agustus 2008 Pelaksanaan 12 – 14 Agustus 2008

    Tempat Kegiatan
    Grha STMIK AMIKOM Yogyakarta,
    Jl. Ringroad Utara Condong Catur, Yogyakarta.

    Pendaftaran
    Biaya Pendaftaran: Rp. 50.000,- / tim
    Tempat Pendaftaran: via Online http://kmn.amikom.ac.id
    Pembayaran dapat dilakukan melalui transfer Bank Mandiri cab. Gejayan Yogyakarta
    No. Rek. 137-00-0540110-0 a.n. Armadyah Amborowati

    Penghargaan (Award)

    * Juara 1 : 10 juta rupiah + beasiswa studi di STMIK Amikom Yogyakarta
    * Juara 2 : 8 juta rupiah + beasiswa studi di STMIK Amikom Yogyakarta
    * Juara 3 : 6 juta rupiah + beasiswa studi di STMIK Amikom Yogyakarta
    * Harapan 1 : 4 juta rupiah + beasiswa studi di STMIK Amikom Yogyakarta
    * Harapan 2 : 2 juta rupiah + beasiswa studi di STMIK Amikom Yogyakarta

  34. Nunggu ujungnya saja ….

  35. weleh, dah tamat ya ?

  36. alhamdulillah “happy ending” 🙂 , barokallah ya buat ali (or kak achoey) nee :mrgreen:

  37. mogah ajah ada cerita lain menyusul…. 😉
    sayah pamit kang achoey…. 😉

  38. salam
    Hmm jangan2 ini biografi si akang neh, setuju kang klo dijadikan novel ceritanya bagus banget.

  39. kayak di ayat2 cinta ngono toh?
    hohohohoho

  40. ahahahaha….sepertinya ada kisah pribadi disisipkn di crita ini…but overall…very nice story…can’t wait to see it on a novel 😉

  41. Agak2 ketebak endingnya bakal begini, mas. Tapi part 1-3 nya ok kok..
    Trus kpn nih jadi novelnya. Ditunggu ya.. 🙂

  42. merinding pas baca…

  43. jadi kapan nih undangannya? ini pertanyaan ke mas achoey… bukan mas ali… 😀

  44. yuk mas cepet dibukukan, lalu diterbitkan, kemudian saya dikirimi satu (maunya…) he..he..

    afwan mas, sedikit respon ya, ceritanya belum benar-benar tamat khan? fiksi ini masih membuka peluang tuk dilanjutkan. dan saya mengharapkan ceritanya tidak tamat seperti itu. klo bisa, cari ending yang lebih unik. masalahnya yang kayak gitu sudah sering di temukan dalam novel2 religi lainnya yang juga bertema romantisme.

    salut!!!
    terus berkarya dan tetap rendah hati!!!
    salam…

  45. Terharu nich bacanya,,tp ok bgt!;-)

  46. Alhamdullillah ternyata cinta pada sang khalik membuahkan nilai Iman dan takwa yang tak ternilai semogah akhi yang nulis dapat Barakah dari Allah dalam hidup ini dan semogah Akhi juga bisa seperti akhi Ali.

    Jazakallah khairan katsiran

  47. Akhi fllah terus nulis yaa ajak hati hambah Allah untuk tawaduh lewat tulisan akhi semogah pena akhi menjadi jembatan bagi insan-insan kamil menemukan Allah sebagi tuhan Nya dan jika Akhi kelak melanjutkan tulisan ini dalam bentuk Novel semogah kelak menjadi Novel yang terlaris dan sebagai salah satu jalan menujuh Ridha Allah Subhanahu Wata A’la amin…

    Jazakallah khairan katsiran


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: